
Jun sedang sibuk di ruang kerjanya.. ia sedang mereview kembali performance Arashi di concert belum lama ini... namun kesibukannya itu tiba2 saja terhenti oleh tangisan Mio yang terdengar dari ruang atas
"papa... papa... mama... berdarah..."
Jun segera melempar remote yang dipegangnya dan berlari untuk melihat apa yang terjadi...
di ujung tangga ia melihat Mio menangis sesegukan tangannya menutupi kedua matanya...
jun menghampirinya dan memeluknya...
"ada apa...?" tanyanya...
Mio menunjuk kearah kamar...
"mama berdarah papa..." katanya sambil menangis...
Jun kaget mendengarnya.. ia melepas pelukannya dan menyerahkan Mio pada baby sitternya yang sudah berdiri di dekat mereka lalu berlari ke kamar...
ia melihat Mao sudah tergeletak di lantai dengan tangannya memegang perut menahan sakit...
Jun segera berlari menghampirinya
"ya Tuhan... ada apa Mao...?" tanyanya setengah berteriak.. wajahnya terlihat panik... ia mencoba mengangkat Mao ke tempat tidurnya
Mao sudah tidak dapat berkata apa2 dia hanya bisa mengerang kesakitan...
Jun semakin panik saat melihat darah yang keluar dari celah kedua kaki Mao...
"bertahanlah aku akan memanggilkan dokter..." katanya
mao menarik tangan Jun dan memegangnya dengan kuat...
"s a k i t..." erangnya...
"iya... tahan sebentar ya sayang..." bisik Jun mencoba menenangkan Mao
Jun mengambil telpon disamping tempat tidurnya lalu tangan yang bergetar segera memijit no telpon RS...
tidak berapa lama kemudian ambulan dan team medis tiba di kediaman Jun..
dan dengan cekatan mereka segera memberikan pertolongan pada Mao..
"maaf.. Anda sebaiknya diluar saja..."
salah seorang dari team medis itu meminta Jun untuk keluar dari kamar agar mereka dapat dengan leluasa menangani Mao...
Jun mengangguk lalu dengan langkah perlahan mundur... ia hanya bisa berdiri di pintu menyaksikan mereka menangani Mao... di wajahnya terlihat raut kecemasan...
"ya Tuhan... selamatkan istri dan anak ku..." do'anya dalam hati...
"pa... Mama mau dibawa kemana...?" Mio bertanya pada papanya saat melihat team medis menggotong Mao untuk dipindahkan ke Ambulance...
"mamah mau dibawa ke Rumah sakit..." jawab Jun
"Mio ikut..." pinta Mio merengek...
Jun menggendong Mio dan berkata pelan...
"Mio tunggu oom Nino ya... nanti baru ke Rumah Sakit menyusul papa dan mama..."
"ngga Mau... Mio ikut sama papa sekarang..." mio tetap merengek...
"Mio ngga bisa ikut sekarang... papa udah telepon Oom Nino.. sebentar lagi dia kesini..."
"NGGAK.. mio ngga mau nunggu Oom Nino..." kali ini tangisan Mio bertambah keras dan itu membuat Jun hilang kesabaran...
"M I O... kali ini kamu ikut apa kata papa..." bentaknya
"tolong bawa Mio ke kamarnya dan suruh tunggu Oom nya..." pinta Jun pada baby sitternya lalu segera menyusul Mao naik ke Ambulance...
Sepanjang perjalanan Jun memegang tangan Mao mencoba menenangkan istrinya dan terus menjaga agar Mao tetap sadar...
"tolong anda ajak komunikasi agar istri anda tetap sadar..." itu yang diminta salah satu team medis padanya...
Jun mendekatkan kepalanya ke telinga Mao...
"Mao... denger aku... kamu ngga boleh tidur... bertahan ya..." pintanya pada Mao...
Mao mempererat pegangan tangannya...
"J u n..." panggilnya
"iya... "
"sakit sekali...."ujar mao lirih...
"aku tau... tapi bertahanlah... kamu pasti bisa..."Jun membelai lembut kening istrinya...
"kamu wanita yang kuat... aku yakin kamu mampu melawan rasa sakit ini..."jun mencoba tersenyum meski hatinya tidak kuasa melihat Mao kesakitan seperti itu...
hati Jun sakit melihat Mao seperti itu... ia mencoba menguatkan hatinya dan mulai mengalihkan dengan bercerita...
"kamu inget saat kita shooting hana yori dango return.. saat kita harus shooting ditengah salju yang dinginnya sampai -10 derajat...?" Jun mencoba membuka memory mereka untuk membuat Mao tetap terjaga..
"saat itu kita udah kedinginan setengah mati... tapi kamu malahan masih bisa becanda.. masih bisa lari sana lari sini... aku sampe mikir.. apa sih yang kamu makan hari itu sampe bisa bikin kamu hyper seperti itu... "
Mao tertawa tertahan mendengar ucapan Jun...
"malah ada yang nanya... Mao itu energy nya ngga ada abis nya emang pake batere apaan sih dia...? lha aku sendiri aja bingung kok..." kali ini Jun yang tertawa dengan ucapannya...
Jun menarik tangan Mao dan membelai lembut punggung tangannya...
"aku mengenal sekali istriku ini adalah wanita yang memiliki semangat yang tinggi... dan itu yang selalu aku kagumi dari kamu... " Jun berhenti sejenak... menarik napas lalu..
"kamu tau? semangatmu itu menular sama aku... aku selalu merasakan semangat yang sama saat kamu berada di dekatku..."
Jun memandang wajah Mao dengan lembut lalu melanjutkan lagi kata-katanya...
"dan yang aku ingat... selama kita hidup bersama.. selama kita melewati pernikahan kita.. aku ngga pernah melihat kamu mengeluh sedikit pun... walau disaat jadwal pekerjaan kamu padat sekali dan kamu masih harus mengurus aku dan mio tapi ngga pernah sekalipun kata lelah keluar dari bibirmu ini... " Jun menempelkan telunjuknya dibibir Mao...
"yang selalu terlihat dari bibir ini adalah senyuman... kamu luar biasa... aku beruntung memiliki kamu... "
Mao tersenyum ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Jun... Jun mencoba membalas senyuman Mao walau matanya mulai terlihat berkaca2...
"karna itu... aku percaya kamu pasti bisa melewati ini... aku yakin..." ucap Jun dengan suara parau...
"dan aku bersama kamu... kita bisa melewati ini..."
Mao mengangguk pelan didalam hati nya ia berjanji pada Jun ia akan berjuang demi Jun dan anak yang dikandungnya...
hampir seperempat jam perjalanan mereka pun tiba di Rumah Sakit... Mao segera dilarikan ke ruang operasi... di depan ruang operasi mereka berhenti sebentar..
Jun menundukan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Mao...
"berjuanglah sayang... demi aku dan anak2..." pintanya...
"aku menunggu kamu disini...." Jun mengecup kening Mao... dan perlahan melepaskan tangan Mao...
Mao segera dibawa masuk kedalam ruangan operasi lalu pintu pun ditutup...
Jun menarik napas panjang mencoba menenangkan hatinya... ia menyandar tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya... airmata yang dari tadi dicobanya ditahan akhirnya keluar juga...
to be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar