Sabtu, 31 Januari 2009

Say that U love me...

Jun baru saja pulang dari studio.. ia dan rekan2nya di Arashi baru saja menyelesaikan rekaman terakhir untuk album terbaru mereka..
ia melihat arloji ditangannya sudah pukul 2 dini hari, Mao saat ini pasti sudah tidur pikirnya.. ia mengurungkan niatnya untuk membunyikan bell dan merogoh tasnya untuk mencari kunci apartemen lalu membukanya..

saat ia masuk , ia mendapati lampu ruang tengah masih menyala dan diliatnya Mao tertidur disofa dengan tangannya masih memegang novel favoritenya..

"baka.. kenapa kamu tertidur disini lagi..? kebiasaan.." gumamnya dalam hati

Jun mengambil novel dari tangan Mao pelan2 sekali takut membangunkannya namun Mao tetap terbangun dan terkejut melihat Jun sudah ada dihadapannya..

"tadaima.." sapa Jun pelan..

"okaeri.. " balas Mao

"sory aku ngagetin kamu.. kita pindah ke kamar ya.." ajak Jun tangannya siap menggendong Mao..
namun Mao dengan sigap menepis tangan Jun..

"ngga usah aku bisa sendiri kok.. lagian kamu pasti cape setelah seharian ini di studio.." lalu ia bangkit dari sofa dan beranjak menuju kamar

aneh.. pikir Jun.. ngga biasanya Mao bersikap seperti itu.. dari tadi pagi saat Jun akan berangkat ke Studio sikap Mao sudah terlihat berbeda.. lebih banyak diam dan hanya menjawab pertanyaan Jun seadanya..

"ada apa denganmu hari ini.." tanya Jun saat mereka sudah berada ditempat tidur

"ngga ada apa apa.. " jawab Mao pendek..

"jangan bohong.. aku tau pasti ada sesuatu yang mengganggumu.. apa soal rumor yang beredar..?" tanya Jun lagi..

"aku udah bilang ngga ada apa2 Jun.. aku hanya cape.. aku mau tidur.." lalu mao membalikan badannya membelakangi Jun

Jun belum puas dengan jawaban mao.. tapi ia tidak ingin mendesaknya..
Ia mematikan lampu duduk disamping tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya..
namun pikirannya terus menerawang.. Jun mencoba menebak nebak apa yang sedang mengganggu pikiran Mao..
belum lama ini ada rumor yang beredar mengenai dirinya dengan lawan mainnya difilm terbaru.. Aya Ueta..
banyak yang memuji acting mereka.. beberapa media menulis keserasian mereka sebagai sepasang kekasih onscreen.. tabloid2 gosip pun turut meramaikan berita mereka dengan rumor kalo mereka menjalin hubungan special dan sering bertemu diluar shooting..
Jun yakin berita2 itulah yang mengganggu pikiran Mao saat ini.. namun Jun menahan diri untuk bertanya pada Mao.. baginya bukan waktu yang tepat untuk menanyai Mao sekarang ini..


*****
keesokan harinya..
pagi2 sekali Mao sudah berada didapur.. ia sibuk menyiapkan sarapan untuk Jun.. hari itu Jun harus kembali ke studio karna ada meeting.. dan Mao sudah terbiasa membuka agenda Jun untuk mengetahui jadwal kegiatan Jun dan menyiapkan segala keperluan Jun.. Ia senang melakukan hal itu.. baginya ini latihan untuk membiasakan diri jika kelak ia menjadi ny matsumoto..

tidak berapa lama Jun keluar dari kamarnya dan menghampiri Mao

"ohayo.." sapanya

"ohayo.." balas Mao

Jun memegang pundak mao dari belakang.. lalu mengecup kepala Mao dengan lembut..

"hmmm apa nih yang kamu buat untukku pagi ini..?" tanyanya

"sandwich tuna.." jawab Mao pendek

Jun lalu menarik kursi dan duduk di meja makan.. la menuangkan cofe ke cangkir yang sudah Mao sediakan dan menghirupnya..

"ini sandwichmu.." Mao menyodorkan sandwich dipiring kehadapan Jun

"arigatou..." ujar Jun ia mengambil sandwich yang disodorkan sambil matanya memperhatikan wajah Mao

"ne.. Mao.. kamu masih ngga mau cerita ada apa denganmu..?" tanyanya sambil melahap sandwich kegemarannya itu..

Mao tidak menjawab.. ia menarik kursi dan duduk dihadapan Jun..

Jun masih memperhatikan wajah mao menunggu reaksinya namun tidak ada reaksi apapun hingga beberapa saat iapun bertanya lagi

"apa kamu mulai terpengaruh dengan gosip2 itu..?

"aku udah bilang.. aku ngga kenapa2..." kali ini mao menjawabnya namun matanya mencoba menghindar dari tatapan Jun

"ngga kenapa2..? tapi sikapmu itu bilang 'ada apa2'.. aku ngga ingin kamu termakan gosip murahan diluar sana tentang aku dan ueta.."

Mao diam dalam hatinya dia bergumam justru itu Jun yang sedang mengganggu pikiranku saat ini tapi aku ngga mau kamu tau...

Jun semakin serius menatap Mao
"hey.. kamu mulai percaya dengan mereka?" tanyanya..

"Jun.. aku lebih mempercayaimu dibanding mereka.. kamu jangan kwatir.. "jawab Mao

Mao berdiri hendak beranjak dari meja makan.. ia berusaha menghindari tatapan Jun yang mulai membuatnya kikuk.. tapi tangan Jun menahannya..

"bagaimana aku ngga kwatir kalo kamu ngga bilang alasan dari sikapmu ini.."

Jun lalu berdiri dan menarik tangan Mao agar lebih mendekat ..
namun tiba2 HP Jun berbunyi dan ia segera mengangkatnya..

"ya sho... ada apa..?" tanyanya
"aku akan terlambat... kalian bisa mulai saja tanpa aku dulu..." lalu menutup HP nya

"pergilah.. mereka udah nunggu distudio kan..?" Mao berusaha menghindar dari pertanyaan Jun

"aku ngga akan pergi sebelum kamu cerita.."

"aku harus cerita apa..? sudah aku bilang ngga ada apa2... mungkin aku hanya kecapaian.. nanti malam saat kamu kembali aku akan seperti biasa lagi.. aku janji.." ujar Mao mencoba meyakinkan Jun

tapi Jun masih tetap ditempatnya matanya tidak lepas dari Mao.. dan ini membuat Mao bertambah kikuk.. tatapan Mata Jun dan sorot matanya selalu membuat Mao tidak berdaya.. mata itu seolah2 sedang membaca pikirannya dan juga perasaannya..

"pergilah.. bukankah meeting kali ini sangat penting.. dan mereka sudah menunggumu.." pintanya

"sudah kubilang aku takan pergi.." jawab Jun tegas..

"Matsumoto Jun sejak kapan kamu mengabaikan urusan yang berkaitan dengan Arashi... bukankan Arashi yang terpenting buatmu... lagipula masalahku ini tidak terlalu penting buatmu.." sekali lagi Mao mencoba meyakinkan Jun

"sejak cincin itu ada dijarimu.. " Jun menunjuk cincin dijari manis mao.. cincin berlian yang ia berikan sebagai tanda keseriusannya dengan mao..

"sejak saat itu kamulah yang terpenting buatku.." lanjutnya

Mao terdiam.. ia tidak tau harus berkata apa.. Jun pasti tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum ia cerita masalah yang sedang mengganggu pikirannya sekarang ini..

Mao menghela nafas panjang menenangkan dirinya.. lalu ia berkata pelan..

"maafkan aku Jun.. jangan desak aku terus.. aku hanya butuh waktu untuk sendirian.. aku janji ini ga akan lama.. please ngertiin aku.. sekarang pergilah.. jangan kwatirkan aku.. ngga ada hal serius yang harus aku ceritakan ama kamu.."

jun mendekatkan wajahnya ke Mao.. matanya menatap mao dengan tajam

"aku ngga percaya kalo ngga ada hal yang serius.. aku tau kamu Mao.." ujarnya

"bukannya dulu kamu yang bilang kalo kita harus berbagi.. kamu juga yang bilang aku adalah bagian dari dirimu.. tapi sekarang, untuk sekedar tau apa yang sedang mengganggu pikiranmu aja aku ngga berhak.. kamu tempatkan aku dimana..?" suara Jun mulai meninggi.. rasa kecewa terlihat jelas diraut wajah Jun

ia lalu mengambil tasnya dan berlalu dari hadapan Mao..

"aku benar2 merasa tidak berguna.." ia meninggalkan Mao yang masih terdiam ditempatnya

didepan pintu Jun berhenti sebentar lalu menoleh kearah Mao..

"kamu perlu waktu untuk sendirian.. baiklah aku beri sebanyak yang kamu butuhkan.. dan aku tidak akan bertanya lagi.. " lalu menutup pintu apartement dengan kuat

Mao terduduk di kursi dengan lemas.. ia sadar telah mengecewakan Jun dengan sikapnya..
ia juga menyalahkan dirinya yang tidak bisa berlaku wajar dihadapan Jun..

apa yang Jun sangkakan mengenai rumor itu memang benar adanya..
Mao sangat terganggu dengan isue yang beredar.. tapi bukan berarti ia tidak percaya dengan Jun..
Mao tau tidak ada wanita lain dihati Jun kecuali dirinya dan Mao tau bagaimana besarnya cinta Jun untuknya..
namun mendengar rumor yang beredar hati Mao terasa sakit.. Ia tidak bisa menampik rasa cemburu.. ia tidak tahan mendengar orang2 berbicara tentang Jun dan Aya Ueta.. rasanya ia ingin membungkam suara2 itu dan berteriak akulah kekasih Jun bukan Aya.. akulah wanita yang selama ini mengisi hati Jun bukan Aya.. tapi ia sadar itu tidak mungkin dilakukan.. bahkan untuk meminta Jun mengklarifikasi kabar itupun rasanya tidak mungkin.. ia tau resiko mencintai seorang Matsumoto Jun.. bukan sekali ini Jun diisukan dekat dengan lawan mainnya.. tapi ntah kenapa rumor kali ini terasa sakit buatnya..

Mao masih belum beranjak dari tempat duduknya.. matanya terpejam.. dipelupuk matanya masih terbayang wajah kecewa Jun...

"maafkan aku Jun.." gumamnya..

"aku ngga bisa cerita mengenai perasaanku ini... aku tidak ingin kamu melihat kelemahanku..."

ia tertunduk dan perlahan membuka matanya.. ia melihat cincin yang melingkar indah dijari manisnya lalu perlahan menyentuhnya dengan lembut...

"cincin ini mewakili diriku.. mewakili hatiku.." kata2 Jun yang tulus saat itu seolah sayup terdengar kembali ditelinga Mao... kata2 itulah yang Jun utarakan saat melamar dirinya...

"aku ingin kamu menjadi ibu dari anak2ku.."

Mao memejamkan matanya kembali... sekarang apa yang ia Mau...? Jun telah memberikan segalanya untuk nya.. dirinya dan juga hatinya...
bahkan Maolah sekarang orang yang terpenting dalam hidup Jun

"sejak cincin itu ada dijarimu.. sejak saat itu kamulah yang terpenting buatku.."

Jun menempatkan dirinya bahkan diatas arashi bukankah itu lebih dari segalanya dibanding sekedar pengakuan orang lain akan status hubungannya dengan Jun..?
lalu apalagi yang ia inginkan..? mungkin ia merasa lelah dengan hubungan rahasia yang ia jalani bersama Jun.. tapi apakah hanya ia yang lelah..? bagaimana dengan Jun..? ia tau benar buat Jun hal ini sama beratnya..

Mao menarik nafas panjang.. mengapa ia bisa seegois ini...??



****

di studio..
Sho memperhatikan Jun yang duduk sendiri dipojokan ruang santai sambil mempermainkan HPnya...
sebagai teman yang telah lama mengenal Jun ia tau ada persoalan yang sedang menghinggapi sahabatnya itu..
ia lalu mendekati Jun dan menepuk bahunya...

"hai.. sedang apa..?" tanyanya lalu duduk disebelah Jun

"dari tadi aku liat kamu cuman mainin HP.. ragu mo nelpon seseorang..?" tanyanya lagi...

Jun menoleh sebentar kearah Sho.. lalu kembali memainkan HP nya...

"kalo kamu mau berbagi denganku.. aku siap menjadi pendengar yang baik Jun.."

Jun menghela nafas panjang.. iya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.. matanya menerawang kelangit2...

"aku hanya bingung dengan sikap wanita..." katanya lirih...

"ho ho.. kenapa emangnya.. bukannya kamu ahlinya dalam menghadapi wanita..?" seloroh sho..

jun menoleh ke sho lagi dengan dahi berkerut lalu meluruskan kembali posisi duduknya..

"aku lagi bingung sama Mao.. sikapnya aneh dari kemaren banyak diam tapi saat aku tanya jawabannya ngga ada apa2.." lanjut Jun

"mmmm.. lagi bulannya kali..." sekali lagi sho mencandai Jun namun segera menghentikannya melihat wajah Jun yang semakin serius..

"sory.. sory.. aku becanda..." katanya

"apa karna gosip tentang kamu dan ueta..?"

Jun menggelengkan kepalanya... "entahlah..."

"hmmm... mungkin saja gosip itu penyebabnya.. siapapun pasti cemburu kalo ada diposisi Mao.." sho mencoba menarik kesimpulan

"mungkin aja.."ujar Jun

"aku lebih lega jika persoalannya hanya cemburu... yang aku kwatirkan jika dia mulai lelah menghadapi gosip yang sering kali menyerangku.."

"no.. no..no.. jangan berfikir terlalu jauh... mao bukan cewe yang lemah dan gampang menyerah kok..." Sho mencoba menenangkan

"mending kamu biarin aja dulu.. mungkin dia butuh waktu untuk sendiri Jun.."lanjut sho

"memang itu yang dia minta.. dan itu yang membuatku marah pagi ini.."

"are?.. ternyata tabiat burukmu dipagi hari ngga berubah ya... sangat gampang emosi.." sho memandang temannya ini dengan pandangan serius...

"aku rasa dia memang hanya butuh waktu untuk sendiri.. "lanjut sho

"kadang kita juga seperti itu kan... lagipula ngga semua persoalan bisa kita share dengan pasangan.. apalagi jika itu bisa membuat keadaan menjadi ngga enak.. kadang kita hanya butuh menyendiri untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.." Jelas Sho..

"beri dia ruang sedikit untuk dirinya sendiri.. aku yakin Mao ngga bermaksud main rahasia2an denganmu.. dia enggan membicarakannya denganmu karna mungkin saja kalo dia cerita justru bisa bikin keadaan jadi ngga enak.. "

"tapi aku merasa tidak dibutuhkan dan itu sangat tidak aku sukai.." timpal Jun..

"hey.. sedikit mengalah lah.. jangan egois gitu.. dengan kamu memberi dia ruang, kamu sudah membantunya Jun.. tetap berdiri dibelakangnya.. jika memang dia membutuhkanmu pastinya dia akan datang padamu segera... jangan terlalu menekan dia.. "

Jun mendengar kata2 sho dengan serius.. apa yang disampaikan sho itu benar.. dia menyadari terkadang dia terlalu menguasai mao sehingga semua hal yang terjadi dengan Mao ia harus tau.. ia tidak menyadari kalo hal itu mungkin saja menjadi tekanan buat Mao..

"mmm mungkin kamu benar sho.. mungkin benar dia hanya butuh waktu untuk sendiri.. aku ngga seharusnya terlalu kwatir dan ngga seharusnya aku marah.."

Jun menepuk pundak sho "arigatou sho.. kamu sangat membantuku.." katanya

sho membalas dengan menepuk kembali pundak Jun..

"sama2.. itulah gunanya teman kan..."

"segeralah minta maaf pada mao.." sarannya lalu berdiri dan menarik tangan Jun

"ayo kita gabung lagi dengan yang lainnya.. pembahasan kita mengenai cover album kan belum selesai.."

Jun bangkit mengikuti ajakan Sho namun tiba2 HPnya berbunyi... Jun segera membukanya.. ada message dari Mao...

"aku udah ngga butuh waktu lagi yang aku butuhkan sekarang ini kamu.. segera kembali setelah semua urusan kamu selesai.." Jun tersenyum membaca message mao lalu menutupnya..

Sho yang masih berdiri didekatnya memperhatikan Jun dan ikut tersenyum..

"pasti dari Mao kan..?" tanyanya

"he..em..."jawab Jun dengan senyum..



*****

Mao mengeluarkan beberapa dvd dari dalam tasnya.. ada beberapa film baru yang ia dan Jun belum sempat menonton.. mereka berdua sebenarnya sudah lama membuat list judul film yang ingin mereka tonton tapi karna kesibukan mereka berdua akhirnya hingga sekarang rencana menonton pun tertunda.. karna itu, tadi sepulang dari lokasi shooting Mao sengaja mampir sebentar di toko dvd langganan mereka untuk menyewa beberapa judul film yang sudah ada dalam list mereka..

baru saja Mao mencoba memutar salah satu film tiba2 bell apartemen berbunyi..
ia segera membuka pintu dan sebuah boneka beruang yang sangat lucu menyapanya dibalik pintu..

"heloo... aku teddy bear.. aku mencari seorang wanita yang memiliki senyum paling indah.. apa kamu bisa membantuku..?"

Mao sedikit terkejut namun kemudian tertawa melihat beruang lucu yang tiba2 muncul dihadapannya itu..

"siapa yang kamu cari..?" tanyanya..

"Aku mencari inoue mao.. yang katanya senyumnya mampu meluluhkan hati siapapun.." kata siberuang lagi.. kemudian jun pun muncul dihadapan mao dengan senyum

"tadaima.." katanya

"okaeri.." balas Mao..

Jun menempelkan wajah beruang lucu itu ke hidung Mao lalu memberikannya pada Mao..

"ini sebagai permintaan maaf atas sikapku tadi pagi.." katanya...

Mao menggelengkan kepala

"bukan kamu yang seharusnya minta maap tapi aku Jun... aku yang seharusnya terbuka sama kamu.. aku minta maap karna sudah bersikap.." belum habis mao berbicara telunjuk Jun sudah menempel dibibir mao..

"sssttt.. ngga apa2 kalo kamu ngga ingin cerita denganku.. aku mencoba paham.. lain kali beri tau aku jika kamu punya masalah dan hanya ingin sendirian.. aku ngga akan menekanmu seperti tadi pagi.. tapi aku tetap stand by.. jika ternyata kamu butuh aku.. aku selalu siap buatmu.."

Mao memandang Jun dengan tatapan haru.. matanya mulai berkaca-kaca..
melihat itu Jun segera menariknya kedalam pelukannya..

"baka.. segitu aja dah mo nangis..." godanya...

"aku ngga nangis.." sanggah Mao sambil mencubit pinggang Jun yang membuat Jun melompat kegelian..

"hey.. sudah berkali2 aku bilang jangan lakukan itu.." teriaknya

namun Mao tidak menghiraukannya ia tertawa sambil terus mencubit pinggang Jun kiri dan kanan..

akhirnya Jun berhasil menahan tangan Mao dan menarik Mao dalam pelukannya kembali..

"akhirnya aku temukan lagi tawa ceriamu ini.. aku kangen.." katanya ditelinga Mao..

Mao menyembunyikan wajahnya didada Jun dan memeluk Jun dengan erat

"bilang kalo kamu cinta aku.. itu akan membuat hatiku lebih tenang.." bisik Mao

Jun tersenyum lalu berkata.. "aku cinta kamu Mao.. sangat mencintaimu.." lalu memeluk Mao dengan lebih erat lagi...

1 komentar:

  1. Bagus koq, suka banget, ditunggu karya yg laen tuk sesama penyuka maojun

    BalasHapus