Rabu, 12 Agustus 2009

a perfect happiness... [sequel : Selamat datang jagoan kecil...]



Jun sedang sibuk di ruang kerjanya.. ia sedang mereview kembali performance Arashi di concert belum lama ini... namun kesibukannya itu tiba2 saja terhenti oleh tangisan Mio yang terdengar dari ruang atas
"papa... papa... mama... berdarah..."
Jun segera melempar remote yang dipegangnya dan berlari untuk melihat apa yang terjadi...
di ujung tangga ia melihat Mio menangis sesegukan tangannya menutupi kedua matanya...
jun menghampirinya dan memeluknya...
"ada apa...?" tanyanya...
Mio menunjuk kearah kamar...
"mama berdarah papa..." katanya sambil menangis...
Jun kaget mendengarnya.. ia melepas pelukannya dan menyerahkan Mio pada baby sitternya yang sudah berdiri di dekat mereka lalu berlari ke kamar...
ia melihat Mao sudah tergeletak di lantai dengan tangannya memegang perut menahan sakit...
Jun segera berlari menghampirinya
"ya Tuhan... ada apa Mao...?" tanyanya setengah berteriak.. wajahnya terlihat panik... ia mencoba mengangkat Mao ke tempat tidurnya
Mao sudah tidak dapat berkata apa2 dia hanya bisa mengerang kesakitan...
Jun semakin panik saat melihat darah yang keluar dari celah kedua kaki Mao...
"bertahanlah aku akan memanggilkan dokter..." katanya
mao menarik tangan Jun dan memegangnya dengan kuat...
"s a k i t..." erangnya...
"iya... tahan sebentar ya sayang..." bisik Jun mencoba menenangkan Mao
Jun mengambil telpon disamping tempat tidurnya lalu tangan yang bergetar segera memijit no telpon RS...

tidak berapa lama kemudian ambulan dan team medis tiba di kediaman Jun..
dan dengan cekatan mereka segera memberikan pertolongan pada Mao..
"maaf.. Anda sebaiknya diluar saja..."
salah seorang dari team medis itu meminta Jun untuk keluar dari kamar agar mereka dapat dengan leluasa menangani Mao...
Jun mengangguk lalu dengan langkah perlahan mundur... ia hanya bisa berdiri di pintu menyaksikan mereka menangani Mao... di wajahnya terlihat raut kecemasan...
"ya Tuhan... selamatkan istri dan anak ku..." do'anya dalam hati...

"pa... Mama mau dibawa kemana...?" Mio bertanya pada papanya saat melihat team medis menggotong Mao untuk dipindahkan ke Ambulance...
"mamah mau dibawa ke Rumah sakit..." jawab Jun
"Mio ikut..." pinta Mio merengek...
Jun menggendong Mio dan berkata pelan...
"Mio tunggu oom Nino ya... nanti baru ke Rumah Sakit menyusul papa dan mama..."
"ngga Mau... Mio ikut sama papa sekarang..." mio tetap merengek...
"Mio ngga bisa ikut sekarang... papa udah telepon Oom Nino.. sebentar lagi dia kesini..."
"NGGAK.. mio ngga mau nunggu Oom Nino..." kali ini tangisan Mio bertambah keras dan itu membuat Jun hilang kesabaran...
"M I O... kali ini kamu ikut apa kata papa..." bentaknya
"tolong bawa Mio ke kamarnya dan suruh tunggu Oom nya..." pinta Jun pada baby sitternya lalu segera menyusul Mao naik ke Ambulance...

Sepanjang perjalanan Jun memegang tangan Mao mencoba menenangkan istrinya dan terus menjaga agar Mao tetap sadar...
"tolong anda ajak komunikasi agar istri anda tetap sadar..." itu yang diminta salah satu team medis padanya...
Jun mendekatkan kepalanya ke telinga Mao...
"Mao... denger aku... kamu ngga boleh tidur... bertahan ya..." pintanya pada Mao...
Mao mempererat pegangan tangannya...
"J u n..." panggilnya
"iya... "
"sakit sekali...."ujar mao lirih...
"aku tau... tapi bertahanlah... kamu pasti bisa..."Jun membelai lembut kening istrinya...
"kamu wanita yang kuat... aku yakin kamu mampu melawan rasa sakit ini..."jun mencoba tersenyum meski hatinya tidak kuasa melihat Mao kesakitan seperti itu...

hati Jun sakit melihat Mao seperti itu... ia mencoba menguatkan hatinya dan mulai mengalihkan dengan bercerita...
"kamu inget saat kita shooting hana yori dango return.. saat kita harus shooting ditengah salju yang dinginnya sampai -10 derajat...?" Jun mencoba membuka memory mereka untuk membuat Mao tetap terjaga..
"saat itu kita udah kedinginan setengah mati... tapi kamu malahan masih bisa becanda.. masih bisa lari sana lari sini... aku sampe mikir.. apa sih yang kamu makan hari itu sampe bisa bikin kamu hyper seperti itu... "
Mao tertawa tertahan mendengar ucapan Jun...
"malah ada yang nanya... Mao itu energy nya ngga ada abis nya emang pake batere apaan sih dia...? lha aku sendiri aja bingung kok..." kali ini Jun yang tertawa dengan ucapannya...
Jun menarik tangan Mao dan membelai lembut punggung tangannya...
"aku mengenal sekali istriku ini adalah wanita yang memiliki semangat yang tinggi... dan itu yang selalu aku kagumi dari kamu... " Jun berhenti sejenak... menarik napas lalu..
"kamu tau? semangatmu itu menular sama aku... aku selalu merasakan semangat yang sama saat kamu berada di dekatku..."
Jun memandang wajah Mao dengan lembut lalu melanjutkan lagi kata-katanya...
"dan yang aku ingat... selama kita hidup bersama.. selama kita melewati pernikahan kita.. aku ngga pernah melihat kamu mengeluh sedikit pun... walau disaat jadwal pekerjaan kamu padat sekali dan kamu masih harus mengurus aku dan mio tapi ngga pernah sekalipun kata lelah keluar dari bibirmu ini... " Jun menempelkan telunjuknya dibibir Mao...
"yang selalu terlihat dari bibir ini adalah senyuman... kamu luar biasa... aku beruntung memiliki kamu... "
Mao tersenyum ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Jun... Jun mencoba membalas senyuman Mao walau matanya mulai terlihat berkaca2...
"karna itu... aku percaya kamu pasti bisa melewati ini... aku yakin..." ucap Jun dengan suara parau...
"dan aku bersama kamu... kita bisa melewati ini..."
Mao mengangguk pelan didalam hati nya ia berjanji pada Jun ia akan berjuang demi Jun dan anak yang dikandungnya...

hampir seperempat jam perjalanan mereka pun tiba di Rumah Sakit... Mao segera dilarikan ke ruang operasi... di depan ruang operasi mereka berhenti sebentar..
Jun menundukan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Mao...
"berjuanglah sayang... demi aku dan anak2..." pintanya...
"aku menunggu kamu disini...." Jun mengecup kening Mao... dan perlahan melepaskan tangan Mao...
Mao segera dibawa masuk kedalam ruangan operasi lalu pintu pun ditutup...
Jun menarik napas panjang mencoba menenangkan hatinya... ia menyandar tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya... airmata yang dari tadi dicobanya ditahan akhirnya keluar juga...

to be continued....

Kamis, 21 Mei 2009

aku memang cemburu..!!




Title : aku memang cemburu..!!
Author : Kamaytea
Rating :
Genre : Romance
Summary : Jun cemburu melihat kedekatan Mao dan Okada.. lalu mereka
bertengkar... tapi pada akhirnya pertengkaran mereka berakhir
manis... *sweet kaya gula...:)*
Disclaimer: kadang pertengkaran juga bisa membuat ikatan cinta semakin kokoh lho...
cuman jangan keseringan aja berantemnya... ;)



Jun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.. disampingnya Mao nampak cemas dan keheranan..
sesekali ia memperhatikan wajah Jun yang terlihat marah... Mao tidak mengerti apa yang menyebabkan Jun tiba2 saja berwajah masam seperti itu
malam itu Jun menjemputnya dari locasi shooting Film terbarunya yang ia bintangi bersama Masaki Okada "Boku no Hatsukoi wo Kimi
ni Sasagu"..
sebelumnya di telpon saat Jun memberitahu akan menjemputnya nada suaranya terdengar biasa saja tidak ada tanda-tanda ia marah ataupun kesal.. malah sebaliknya ia terdengar senang karna hari itu mereka berdua sama2 bisa pulang lebih awal dari biasanya.. itu artinya mereka berdua punya waktu lebih lama untuk bisa menikmati malam berdua dan Jun berencana membuatkan makan malam special..
tapi sekarang justru ia menampakan wajah dinginnya bahkan ia tidak membalas sapaan Mao saat masuk kedalam mobil tetapi segera menjalankan mobilnya...

sepanjang jalan mereka hanya terdiam.. di dalam hati mao bertanya2 apa yang membuat Jun berubah sedemikian cepatnya... apa yang salah dengan dirinya... namun Mao tidak menemukan jawaban dan akhirnya setelah sekian lama mereka diam ia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan...
"kamu kenapa sih...?" tanyanya memecah kesunyian...
Jun diam tidak menjawab... pandangannya tetap lurus kedepan...
"kamu marah...? karna kelamaan nunggu...? atau ada masalah lain...?" mao mencoba menebak namun Jun masih saja diam...
"Jun.. ngomong dong... kamu bikin aku cemas.." Mao menarik tangan Jun namun Jun menepisnya...
Mao kaget melihat reaksinya itu... mao sadar ini ngga main2.. Jun benar2 marah... tapi marah kenapa...? apa karna ia terlalu lama menunggunya? "hmmm mungkin saja karna itu..." pikirnya dalam hati
"kamu pasti marah karna kelamaan nunggu kan...? maafkan aku... tadi ngedadak ada breafing dulu..." lanjutnya mencoba menjelaskan namun Jun tetap tidak bergeming pandangannya hanya lurus ke depan memperhatikan jalanan
"ok... kalo kamu ngga mau bicara ya sudah... lagipula ngga ada ruginya buatku... aku juga merasa tidak melakukan kesalahan apapun hari ini..."
Mao membuang pandangannya kearah jendela disampingnya ia tidak ingin perduli lagi dengan amarah Jun yang ngedadak seperti itu... dan mereka pun kembali diam

"aku kesal... tapi bukan karna itu..." Jun akhirnya bicara juga setelah mereka lama terdiam
Mao menoleh kearah Jun memperhatikan wajah Jun dengan serius
"kamu tadi ngapain sih ama okada...?" tanya Jun
"okada...? aku ama okada...? aku ngga ngapa2in ama dia..." jawab Mao
"ngga ngapa2in...? tadi kamu bicara sama dia pake bisik2 lalu cekakak cekikik itu apa...?" tanya Jun lagi dengan suara yang mulai sedikit meninggi
Mao diam bola matanya ditarik keatas mencoba mengingat2 apa yang terjadi tadi.. apa yang ia dan okada lakukan yang membuat Jun kesal seperti itu... lalu dia pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya...
"oooo... yang itu..." mao mulai mengingat kejadian tadi saat dirinya dan okada membicarakan tentang juru kamera yang sedang menshoot adegan mereka tiba2 kentut dan suaranya membuyarkan konsentrasi mereka dan bagi mereka kejadian itu lucu sekali
"aku ama okada lagi ngomongin cameraman abis lucu banget..." katanya masih diringi tawa kecil
"kamu tau ngga Jun masa dia...... " Mao mencoba menjelaskan namun belum selesai Mao bicara Jun sudah memotongnya...
"tapi kamu kan ngga perlu kegenitan seperti itu saat bicara sama dia..." katanya
Mao segera menghentikan tawanya mendengar perkataan Jun yang pedas...
"apa...??? aku genit...??" tanyanya
"ya... terlalu genit... aku ngga suka kamu seperti itu didepan dia..." suara Jun terdengar ketus
"heeeiiiii.... rasa nya sikapku biasa aja... ngga ada yang berlebihan apalagi genit..." sahut mao... ia nampak tidak suka dengan perkataan Jun dan memperlihatkan wajah cemberutnya
"lagi pula dia lawan mainku rasanya wajar kalo aku bersikap akrab sama dia..."
"tapi apa perlu sampai sedekat itu...?" tanya Jun lagi
"lho emangnya ada yang salah... aku merasa sikapku wajar.. sama aja dengan sikapku ke shun, toma atau siapapun..." Mao mencoba memberikan pembelaan diri
"heii... shun, toma itu berbeda... aku mengenal mereka dan aku tau hati mereka seperti apa..."
"emang apa yang membedakan okada dan mereka... bagiku mereka sama aja teman2 yang menyenangkan.. dan tidak lebih..." bantah Mao
"Ooo... sangat berbeda... okada menyukai kamu..."
"apa...?? okada menyukaiku...?" mata Mao terbelalak nampak kaget lalu...
"kamu jangan bicara sembarangan... "
"aku ngga bicara sembarangan... aku melihat sendiri.. bagai mana ia memperhatikan kamu.. memandang kamu.. tersenyum sama kamu..."
"aku ngga merasa okada seperti itu... kamu aja terlalu curigaan..." bela Mao
"aku ini laki2 sangat mengerti arti dari sikap dia sama kamu.. dan kamu.. kamu terlalu naif jika tidak menyadari hal itu..." Jun memandang Mao dengan tatapan yang sinis
"sekarang kamu bilang aku naif...? kamu udah keterlaluan Jun..." Mao membalas tatapan Jun tak kalah sinis
"ya... naif... dan kamu terlalu berlebihan meladeni dia..." lanjut jun..
Mao menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi dan melipat tangannya didada.. iya nampak kesal menghadapi Jun yang menurutnya terlalu berlebihan...
"kamu yang terlalu berlebihan mencurigai dia..." katanya kemudian..
"aku bicara yang sebenarnya... dan kamu... tingkah kamu tadi membuat aku bertambah kesal..."
"tingkah aku yang mana...? kamu bicara begitu sepertinya kamu ngga mempercayai aku..." kali ini nada suara mao yang terdengar tinggi..
"aku ngga bilang aku ngga percaya kamu... aku hanya mengingatkan kamu untuk membatasi sikap kamu ke okada.."balas Jun
"udah udah.. aku ngga pengen nerusin pembicaraan ini ... lebih baik kamu turunkan aku disini..." pinta Mao..
"hei.. aku blom selesai bicara..." Bentak Jun sambil menarik kencang tangan mao...
"turun kan aku disini..." teriak Mao... ia sudah tidak bisa menahan kekesalannya..
Jun akhirnya menepikan mobilnya karna Mao memaksanya...
setelah mobil menepi Mao segera turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras dan diwajahnya tampak raut kekesalan...
Jun yang juga masih marah tidak bicara apa2 lagi dan hanya menjalankan kembali mobilnya meninggalkan Mao sendirian di jalan...

tidak lama setelah Jun berlalu Mao menyetop sebuah taxi... malam itu ia memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya... ia masih merasa kesal dengan ucapan Jun tadi.. dan pertengkaran mereka kemungkinan masih bisa berlajut jika ia tidak memutuskan untuk turun dan memilih untuk tidak pulang ke Apartement mereka...
sebenarnya Mao amat mengenal Jun yang punya sifat tamperamen seperti itu.. jika ada hal2 yang ia tidak suka ia akan langsung menunjukan kedo's-annya..
tapi walaupun mao mencoba mengerti Jun.. tetap saja disaat mereka sedang bertengkar dan Jun mengeluarkan kata2nya yang pedas dan kasar hati mao selalu kesal dibuatnya..
dan ia selalu memilih untuk menghindarinya sampai saatnya Jun reda dengan amarahnya itu...

Jun menghentikan mobilnya di tepian sungai tidak jauh dari apartement mereka.. ia merasa malas sekali untuk pulang... ia yakin malam ini mao pastinya tidak akan pulang ke Apartement setelah apa yang terjadi tadi...
Jun menarik sandaran kursinya kebelakang lalu merebahkan tubuhnya... pikirannya tertuju pada mao dan pertengkaran mereka tadi..
ada penyesalan dihatinya karna ia telah berbicara cukup keras pada Mao dan sudah menghancurkan rencana mereka malam ini... seharusnya mereka memanfaatkan malam ini dengan baik mengingat jarang sekali mereka punya waktu untuk bisa berlama2 bersama ditengah padatnya jadwal pekerjaan mereka...
Jun sadar kalo semua ini adalah kesalahannya seharusnya dia bisa lebih mengontrol emosinya...
Mao tidak salah.. ia hanya bersikap sewajarnya kepada seorang teman kerja.. dan memang sudah menjadi sifat Mao yang mudah akrab dengan siapa saja... seharusnya dia bisa memahami itu dan mempercayai Mao...
lagipula pria itu adalah okada yang umurnya jauh dibawahnya.. seharusnya ia tidak perlu cemburu seperti itu..
Mao memang menarik.. ia cantik dan punya personality yang menyenangkan rasanya wajar bila seorang pria seperti okada tertarik padanya...
"kenapa sekarang aku seperti kehilangan kepercayaan diri.. cinta mao sudah pasti untukku.. ngga perlu aku khawatirkan hal2 seperti ini "gumamnya dalam hati..

Jun menarik napas panjang dan menghembuskannya... sekarang ia bingung harus bagaimana... pulang ke apartement rasanya malas sekali.. ia tidak ingin sendirian..
Jun memejamkan matanya namun sebentar kemudian ia bangun... ia segera membenarkan kembali posisi duduknya dan segera menghidupkan mesin mobilnya... dia memutuskan untuk menjemput Mao dan meminta maaf padanya... ia tidak ingin sendirian malam ini.. ia butuh mao...
lagipula sekarang atau besok sama saja tetap dia yang harus meminta maaf.. karnanya ia tidak ingin menunggu sampai besok.. begitu pikirnya..

Mao berjalan pelan menyusuri trotoar jalan yang menuju ke arah rumahnya...
tadi sebelumnya ia mampir ke toko swalayan dan sekarang sengaja memilih berjalan kaki dari toko swalayan ke rumahnya yang jaraknya lumayan jauh.. ia ingin mendinginkan suasana hatinya.. dan melupakan pertengkarannya dengan Jun...
setibanya di rumah Mao sedkit heran melihat pintu pagar yang terbuka... dia segera menoleh ke kanan dan kiri memeriksa mobil yang terpakir disekitar rumahnya mungkin saja ada tamu yang ia kenal..
dan diseberang ia melihat mobil yang sangat dikenalnya... mobil Jun... ngapain dia kemari? pikirnya..
Mao membalikan badannya namun Jun sudah ada didepan pintu pagar menyambutnya...
"Mao..." panggilnya..
Mao menoleh kearah Jun..
Jun melangkah mendekati mao dan berhenti dua langkah dari tempat Mao berdiri...
"maafkan aku.." katanya dengan suara pelan..
mao membalikan badannya kembali menghadap Jun.. ia memandang Jun dengan serius
"aku tau tadi kata2ku terlalu kasar... aku tau itu menyakitimu... maafkan aku.. aku hanya..." Jun berhenti sejenak menelan ludahnya seolah ingin membasahi tenggorokannya yang terasa kering...
"kamu cemburu kan...?" potong mao...
Jun menatap Mao tak berkedip... bagaimana bisa ia mengelak dari perasaan cemburu... wanita yang sedang ia tatap ini begitu mempesona dan telah membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya... dan bukan tidak mungkin pria lainpun akan jatuh cinta padanya...
"mmm..." Jun mengangguk pelan...
"aku memang cemburu... karna kamu terlalu menarik... pria lain mungkin akan dengan mudah jatuh cinta padamu.. tak terkecuali okada.." jawabnya
"biarkan aku bicara dulu..." Jun memberikan isyarat dengan tangannya saat Mao akan melangkah mendekatinya dan mengucapkan sesuatu...
"mengenai okada mungkin aku berlebihan.. tapi aku bicara berdasarkan apa yang aku lihat... dan aku memang cemburu...aku minta maaf..."
jun diam sebentar lalu...
"tapi aku percaya kamu... jika apa yang aku pikirkan tentang okada itu benar.. aku yakin kamu pasti bisa mengatasinya..."
Jun maju selangkah.. dan meraih tangan Mao..
"aku ngga pernah sedikit pun meragukan hati kamu.. tapi aku hanya ingin kamu sedikit waspada... ngga ada salahnya kan...? jangan sampe okada salah mengartikan sikap kamu..." pintanya
Mao tersenyum dan menganggukan kepala...
"he ehmmm... aku janji akan jaga sikapku supaya dia tidak salah mengartikan.." jawabnya lalu melingkarkan tangannya dileher Jun...
"bodo... sama anak kecil aja kamu cemburu..." bisiknya ditelinga Jun lalu mendekap erat Jun...
Jun tersenyum dan membalas dekapan Mao...
"jangankan anak kecil.. balita pun bisa bikin aku cemburu..." jawabnya...
"aku hanya ngga ingin kehilangan kamu..."
Mao melonggarkan dekapannya.. tangannya masih melingkar di leher Jun..
"heii.. kemana matsujunku yang full confidence..? orang yang cemburuan itu berarti hati nya lemah..."
"kalo menghadapi cinta siapapun bisa lemah... termasuk aku.." jawab jun
Mao menatap dalam2 mata Jun lalu perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Jun dan menciumnya dengan lembut...
"mungkin ini bisa mengembalikan kepercayaan dirimu..." katanya
Jun menarik tubuh Mao.. mendekapnya lebih erat lagi dan memberikan ciuman balasan yang lebih dalam..
Mao memejamkan matanya menikmati kehangatan yang terasa mengalir di dalam tubuhnya.. membiarkan dirinya hanyut dalam cinta yang Jun beri... dan Mao pun berusaha memberikan yang terbaik yang dapat ia lakukan untuk Jun...
ini seperti energy baru yang mengembalikan kekuatan pada cinta mereka dan melupakan pertengkaran... hanya ini yang mereka butuhkan sekarang ini...

Jun melepaskan ciumannya dengan lembut lalu berbisik...
"kita pulang ya..."
mao mengangguk pelan...
"aku harus bilang apa ke mamah...? " tanyanya pada Jun...
"bodo.. makanya lain kali berfikir dulu.. jangan setiap kali berantem selalu pulang kesini..." Jun mendorong kening Mao dengan telunjuknya
"hei.. karna hanya disini tempat yang paling aman untuk menghindar dari kedo's-an kamu..." jawab Mao sambil mengusap-usap keningnya dengan wajah yang mencibir...
"tempat yang aman..? kamu pikir aku harimau sampe harus nyari tempat aman...?"
Mao mendorong tubuh Jun dan berkata...
"kamu lebih seram dari harimau dan singa kalo lagi marah..." lalu berlari masuk kedalam rumah sambil tertawa...
"heiii... enak aja..." teriak Jun dan berlari mengejar Mao..

Kamis, 30 April 2009

Selamat datang jagoan kecil....


"aku ngga bisa makan yang ini..." Mao mendorong pelan piring yang berisi macaroni schotel dihadapannya lalu beranjak berdiri meninggalkan meja makan...
Mio yang berada disebelahnya menatap mamanya dengan pandangan heran...
"macaroni papa enak kok..." katanya polos...
Jun yang sedang menuangkan sisa macaroni ke piring berhenti sejenak dan menoleh ke Mao..
"ada apa?" tanyanya...
"kamu kan belum menyentuh sama sekali makanan itu..."
"bau bawangnya membuatku eneg dan juga kurang kering.." jawab mao
"biasanya juga seperti itu yang kubuat... kamu ngga pernah komplain sebelumnya.."
Mao tidak menjawab, ia sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya ke tempat pemotretan..
Jun menaruh piring yang sedang dipegangnya lalu menghampiri mao dan memeluk pinggangnya dari belakang...
"ada apa...?" tanyanya...
"mood kamu akhir2 ini sangat tidak stabil... aku jadi khawatir..." katanya sambil membalikan tubuh Mao tangannya masih dipinggang Mao..
"kamu kecapean ya... mintalah waktu untuk istirahat..." sarannya
"emmmmm... aku emang sering merasa cape akhir2 ini... tapi.."
Mao menggelengkan kepalanya..
"ngga mungkin aku ambil waktu untuk libur karna kita dikejar date line..."
Jun memandang istrinya dengan teliti... ia melihat wajah Mao yang sedikit pucat... ada perasaan khawatir dihatinya tapi ia juga mengerti profesionalitas Mao dalam pekerjaannya...
"tapi wajahmu keliatan cape sayang... gimana kalo aku panggil supir untuk mengantarmu dan Mio hari ini..."
Mao menggelengkan kepalanya..
"ngga... ngga usah... aku masih bisa kok nganter Mio kesekolahnya dan pergi ke locasi pemotretan sendiri..."
"kamu yakin..?" tanya Jun
Mao mengangguk dengan cepat...
"baiklah untuk pengambilan gambar yang tersisa aku izinkan.. tapi setelah itu berjanjilah untuk sementara waktu kamu istirahat dulu.." kata Jun tegas...
Mao mengangguk menuruti kata2 Jun...
"akan ku bakar lagi makroninya supaya lebih kering ya dan menambahkan sedikit merica agar bau bawangnya tidak terlalu menyengat..." Jun melepaskan tangannya dari pinggang Mao dan berbalik menuju dapur
Mao mengikuti Jun dari belakang...
"maafkan aku karna aku jadi rewel..." katanya
"bukannya sudah rewel dan bawel dari dulunya...?" canda Jun yang dibalas wajah cemberut Mao...
Jun tertawa sambil memasukan kembali macaroni yang sudah ditambahinya merica ke dalam microwave
"ngga masalah... asalkan kamu senang tuan putri.." lanjutnya
"masakan papa enak kok ma.. mio aja suka banget... " Mio yang telah selesai dengan sarapannya beranjak dari kursi dan menarik tangan mamanya untuk duduk bergabung dengannya di meja makan...
"masakan papa yang paling enak sedunia... beneran deh ma... "katanya lagi mencoba membujuk sang mama
Jun menoleh sebentar dan tersenyum melihat sikap sok dewasa Mio...
walaupun umurnya belum genap 4 tahun tapi mio terkadang bersikap lebih dewasa dari umurnya sikapnya itu sering kali membuat Jun dan Mao tertawa geli... tapi Jun menyadari sifat Mio itu lebih banyak menurun dari dirinya...

Jun turun dari mobilnya ia baru saja sampai disebuah sekolah dasar, hari itu ia dan Nino ada shooting untuk variety show Arashi dan kali ini ia dan Nino harus mengajar anak2 sekolah dasar didepan kelas...
Jun melihat arloji ditangannya
"hmmm masih ada waktu 10 menit..." gumannya...
ia berjalan melewati lapangan rumput menuju tempat yang dijelaskan Nino di sms nya...
saat melewati lapangan langkah Jun terhenti oleh sebuah bola yang melaju mengenai kakinya ia melihat sekelompok anak laki2 berlarian kearahnya lalu salah satu anak dengan sopan meminta bola yang sudah berada di tangan Jun... Jun tersenyum dan meberikan bola sambil menepuk lembut kepala anak itu...
"terima kasih Oom..." kata si anak kemudian berlari kembali ke tengah teman2nya...
Jun memperhatikan anak2 itu bermain... ia ingat dulu saat ia kecil sepak bola adalah permainan favorit nya ia sering sekali bermain bola dihalaman belakang rumahnya bersama ayahnya itu adalah masa yang sangat indah buatnya... kadang ia merindukan masa2 bermain seperti dulu...
Jun masih berdiri memperhatikan anak2 tadi sambil sesekali ikut tertawa melihat anak2 itu saling bercanda sambil berebut bola.. lalu tanpa sadar ia mulai membayangkan seandainya ia memiliki anak lelaki pasti akan sangat seru bermain bersamanya.. ia bisa mengajarkannya bermain bola atau baseball.. mengajaknya ke setiap pertandingan bola dan baseball atau berdiskusi mengenai olahraga suatu hal yang disenanginya.. ia tersenyum membayangkannya..
tapi tidak berapa lama teriakan Nino membuyarkan lamunannya.. ia menoleh kebelakang... dari kejauhan Nino melambaikan tangannya
"Jun... kita udah mau mulai shooting..."teriaknya
"oh.. ok..." Jun segera berlari kecil menghampiri Nino...
"anak2 sudah siap di dalam kelas..." lanjut Nino sambil menyerahkan skrip pada Jun...
Jun membaca sekilas skrip yang disodorkan sambil berjalan menuju kelas.. namun tiba2 Hp nya berbunyi... ada sms yang masuk dari Ito asisten manager Mao... jun segera membukanya... dan tiba2 saja wajahnya berubah serius saat membaca isi pesan singkat di HP nya
"Mao terjatuh di locasi shooting dan saat ini berada di rumah sakit " begitu kalimat yang tertera di screen
"Nino, aku minta waktu sebentar untuk menelpon..." pinta Jun sambil segera berlalu meninggalkan Nino dan crew...
tidak lama Jun kembali ke kelas dengan wajah yang sedikit tegang...
"ada apa Jun..?" tanya Nino... ia nampak khawatir melihat perubahan wajah Jun...
"Mao ada di rumah sakit dia pingsan tapi aku masih belum tau keadaannya karna masih dalam pemeriksaan.." jawab Jun
"di RS...? kamu ngga sebaiknya menyusul kesana..." saran Nino...
"ya setelah shooting kita selesai..." kata Jun
"shooting bisa kita tunda Jun.. lagipula kita masih punya banyak waktu..."
"ngga... ngga usah... kita shooting sekarang... kalo ada yang serius Ito pasti menghubungiku..." katanya lagi
"Hitori... aku titip ini.. " Jun menyerahkan Hp nya ke salah satu crew
"tolong angkat jika itu dari Ito dan tolong tanyakan kondisi Mao.." katanya lalu ia segera bersiap untuk shooting...

Mio baru saja tertidur pulas setelah papanya membacakan dongeng kesukaannya tentang seorang putri yang tersesat didalam hutan dan bertemu dengan kelinci yang lucu yang membantunya menemukan jalan pulang...
"itukan salahnya putri... seharusnya dia bilang sama mama dan papanya kalo mau pergi-pergi.. iya kan pa..."
Jun tersenyum mengingat komentar yang keluar dari bibir mungilnya itu...
ia memandang wajah polos putri kesayangannya itu lalu mengecup keningnya...
"kamu pasti bisa menjadi kakak yang baik sayang..." bisiknya...
kemudian Jun beranjak perlahan dari sisi tempat tidur mio, mematikan lampu kamar dan melangkah menuju kamarnya...
ia berhenti di pintu kamar memperhatikan Mao yang sedang asiek membaca novel... Mao terlihat serius membaca...
Jun menghela napas panjang rasanya hari ini jantungnya dipaksa berpacu kencang... saat ia menerima sms dari ito yang mengabarkan kondisi Mao, ia benar2 panik... walaupun ia berusaha tetap tenang saat shooting dan berusaha untuk profesional... namun saat shooting selesai ia sudah tidak menghiraukan hal lain selain segera meluncur ke RS untuk melihat keadaan istri tercintanya... bahkan untuk pamit pada nino dan crew pun tidak...
ia berlari sepanjang koridor RS dengan perasaan yang cemas...
namun untunglah ia dapat bernapas lega setelah ia menemui dokter yang mengatakan Mao hanya mengalami anemia dan butuh beristirahat... dan bukan hanya lega tapi ia malah mendapat kejutan istimewa saat dokter menjabat tangannya dan mengucapkan
"Selamat... anda kembali menjadi seorang Ayah..."
ini benar2 berita yang membuatnya bahagia sekali...
Mao menutup novelnya dan menyimpannya dimeja samping tempat tidurnya... ia melihat Jun yang masih berdiri memperhatikannya di pintu...
"sedang apa sayang kok cuman berdiri disitu..." katanya dengan seyuman lalu mengulurkan kedua tangannya meminta jun untuk memeluknya
Jun melangkah mendekatinya dan memeluknya...
"sedang mengagumi ibu dari anak2ku..." Jun berbisik ditelinga Mao...
mereka berpelukan lama... lalu mao melepaskan pelukannya dan menatap Jun...
"maaf ya Jun.. kita belum membicarakan keinginan untuk memiliki anak kedua tapi sekarang aku malah udah hamil..." katanya...
Jun tersenyum kedua tangannya memegang pipi Mao...
"kita memang belum membicarakannya.. tapi bukan berarti aku ngga mengharapkannya..." lalu mengecup kening Mao
"aku sangat menginginkannya... dan kedatangannya sangat tepat... aku bahagia sekali..." lanjutnya
ia membungkuk pelan dan menempelkan kepalanya diperut mao...
"hi.. jagoan..."sapanya pada jabang bayi
"kok jagoan sih... sok tau banget kalo dia cowo..." Mao tertawa mendengar sapaan Jun...
Jun menoleh sebentar ke Mao
"feeling seorang ayah..." katanya tersenyum lalu memberikan kecupan berulang ulang diperut Mao yang membuat mao tertawa kegelian...

Rabu, 22 April 2009

Jumat, 06 Februari 2009

YES, as my Valentine gift..


"Are..?? bukannya kamu mencari hadiah Valentine..??"
Ohno mengambil mug bergambar beruang dengan hati berwarna biru dari keranjang yang dibawa Jun.. lalu mengambil yang satunya lagi yang berwarna pink..
ia memandang Jun dengan pandangan heran..
"Jun.. jangan bilang kamu.." belum selesai ohno dengan kalimatnya secepat kilat jun menyambar kedua mug dari tangan ohno dan memasukan kembali ke keranjang belanjanya..
ohno terdiam ditempatnya masih dengan wajahnya yang bingung melihat isi belanjaan Jun.. namun Shun yang memperhatikannya menarik ohno cepat agar tidak menghalangi jalan Jun..

"Shun.. kamu liat kan apa yang dia beli... sepasang Mug biru dan pink.. handuk kembar biru dan pink lalu sikat gigi yang sama biru dan pink juga..."
Shun mengangguk dengan tersenyum...
"emang kenapa dengan barang2 itu..?" tanyanya...
"itu sama artinya dia dan Mao akan..." ohno menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya...
ia tidak berani melanjutkan ucapannya...
Shun yang mengerti maksud ohno hanya tertawa melihatnya lalu berlalu meninggalkan ohno dan mencari barang yang ia butuhkan.. sambil berkata
"reaksi kamu terlalu berlebihan o-chan.."

di cofee shop Ohno masih saja penasaran dengan barang2 yang dibeli Jun...
"Jun... tolong jawab pertanyaanku... soal barang-barang itu.."
"mmm... apa yang mau kamu tanya riida..?" Jun dengan santai menghirup coffe panas yang baru saja dihidangkan oleh pramusaji
"kamu dan Mao.. barang barang itu...?" ohno bertanya dengan kalimat yang sepenggal sepenggal.. ia nampak bingung untuk menyampaikan pertanyaan ke Jun...
Shun menepuk bahunya.. "katakan dengan jelas o-chan.. kamu jangan bikin pertanyaan baka seperti itu..."katanya..
"anoo... masalahnya..." lagi2 ohno tidak bisa menyelesaikan perkataannya dia hanya menggaruk kepalanya...
Shun tertawa melihat kebingungan ohno.. lalu ia melirik Jun seolah meminta persetujuan Jun untuk menyampaikan sesuatu..
Jun hanya tersenyum dan kembali menikmati cofee nya...

"o-chan.. biar ku bantu kamu.. maksud pertanyaanmu adalah... apakah Jun dan Mao akan tinggal bersama.. gitu kan..?" tanyanya
ohno hanya diam ia memandang Jun menunggu jawaban dari Jun...
Jun membalas pandangan ohno dan mengangguk..
"are..??" ohno nampak terkejut... baginya ini berita yang sangat mengejutkan walaupun dari tadi dia sudah menebak2 akan hal ini
"cotto Jun.. kamu ngga serius kan..?" tanyanya..
"aku serius.." balas Jun..
"sangat serius.. dan sudah aku pertimbangkan dengan matang.. aku hanya menunggu jawaban Mao.."
Shun tersenyum dan merangkul pundak sahabatnya itu..
"Jun.. aku ikut gembira buat kamu dan Mao.. aku yakin Mao pasti setuju.. kalian kan saling mencintai.. " ujarnya lalu melirik ohno
"o-chan.. bukannya ini kabar yang menggembirakan.. akhirnya Jun dan Mao memiliki hubungan yang semakin jelas.. kamu juga ikut senang kan.."
"yaaa.. aku senang.. tapi kan masalahnya ngga segampang itu..."
ohno memandang Jun lagi.. kali ini pandangannya sangat serius...
"Jun.. kamu sudah bicara dengan manajemen..?" tanyanya..
Jun menggelengkan kepalanya..
"aku belum beri tau siapapun di manajemen mengenai rencanaku ini.." katanya..
"kenapa kamu ngga bicara dulu dengan kita..?" tanya ohno lagi..
"soal itu sory banget.. tapi Aiba dan Sho udah tau tentang rencanaku ini.. aku sudah minta pendapat mereka.." katanya..
"apa..?? Aiba dan Sho sudah tau..? lalu hanya aku dan Nino yang ngga kamu kasih tau..?" tanyanya dengan mata melotot seolah ngga terima kalo Jun tidak melibatkan dirinya untuk berdiskusi..
"sory.. sory.. saat itu kamu dan nino memang sedang sibuk dan aku ngga ingin mengganggu kalian.. tapi sekarang kan kamu tau juga.."
"ya beda.. tadi kalo aku ngga ngeliat barang barang itu.. mungkin kamu ngga akan cerita.."
Shun memegang pundak ohno mencoba menenangkannya..
"yang penting kan sekarang kamu tau O-chan.. dan kita dukung aja keputusan mereka.."
Ohno memandang Shun lalu berkata..
"Shun.. kamu bisa bilang itu karna kamu diluar JE.. kamu tau kita ngga sebebas kalian menentukan satu putusan.. apalagi ini mengenai hidup bersama seorang wanita.."
Jun menggeser kursinya lebih dekat dengan ohno..
"riida.. kamu tau aku kan..?" tanyanya... yang dijawab ohno dengan anggukan
"kapan aku pernah memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang..? kamu kenal aku.. aku akan bertanggung jawab dengan putusan yang aku ambil.. aku sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan sangat hati hati.. dan aku sangat mempertimbangkan kepentingan Arashi juga saat aku memutuskan ini... aku pastikan tidak akan membuat nama Arashi tercoreng.. aku berani untuk mempertanggung jawabkan semuanya.. "katanya lagi panjang..
ohno terdiam sejenak lalu bertanya dengan suara pelan..
"kamu yakin sudah membuat keputusan yang tepat untuk kamu dan Mao..?"
"sangat yakin.." jawab Jun..
"aku lama memikirkan hal ini.. sama lamanya saat aku memutuskan pacaran dengannya.."
ohno mengangguk2an kepalnya mencoba memahami keputusan Jun
"baiklah.." katanya..
"tapi apa kamu sudah siap jika Johnny mengetahui ini..?"
"aku siap.." jawab Jun...
"jika johnny keberatan dengan keputusanku.. aku punya kamu, Aiba, Sho dan Nino yang pastinya akan membelaku.." lanjutnya..
"terutama kamu riida.. aku yakin kamu pasti dukung aku dan Mao sepenuhnya.."
"kenapa aku yang terutama..?" tanya ohno
"yaaaaa... karna kamu seorang riida..." celetuk Shun
"Jun.. aku siap mati matian bejuang dibelakangmu... mendukungmu dan Mao dengan segenap jiwa raga.." lanjut shun dengan canda tangan dikepalkan di dada...
lalu melirik ohno..
"kamu juga kan o-chan..?" tanyanya sambil menyenggol lengan ohno dengan sikutnya...
"mmm... gambare yoo.. Jun.." ohno akhirnya memberikan restu dan juga dukungannya pada Jun dan Mao..


Jun dan Mao menikmati malam Valentine mereka di Apartemen Mao..
malam itu Mao dan Jun makan malam dengan hidangan special yang Mao buatkan untuk Jun..
dan seperti biasanya tradisi di hari Valentine tentunya Mao tidak lupa juga membuatkan coklat untuk Jun.. coklat yang terasa sangat istimewa bagi Jun..
"setiap gigitan dari coklat yang kamu buat ini.. membawa kembali kenangan ke awal pertemuan kita.." kata Jun saat ia sedang menikmati coklat buatan Mao dengan duduk santai di sofa..
"aku masih inget rasa coklat yang pertama kamu beri buatku.." katanya lagi..
Mao yang duduk dibawahnya meliriknya sebentar dan tersenyum tangannya asik membuka bungkusan yang Jun bawa sebagai hadiah Valentine untuknya..
ia mulai mengeluarkan isi dari bungusan itu.. sebuah Mug bergambar beruang dengan hati berwarna pink.. sebuah handuk berwarna pink dan juga sikat gigi berwarna pink..
ia melirik Jun dengan matanya yang penuh tanda tanya
Jun tersenyum lalu turun dari sofa dan duduk disamping Mao..
"aku punya pasangannya ditempatku.." katanya lalu ia menunjuk sebuah benda yang ia tempelkan didalam Mug.. sebuah kunci..
Mao mencabut kunci itu lalu memandang Jun...
"ini..?" tanyanya...
Jun tersenyum lalu mengambil kunci itu dari tangan Mao..
"kamu inget kan kalo aku pernah memintamu untuk tinggal bersamaku.." katanya..
"dan hari ini aku menagih jawabanmu.. aku minta kamu beri jawaban YA.. sebagai hadiah Valentine buatku.." Jun mengambil tangan Mao membuka telapak tangannya dan menaruh kunci itu di telapak tangan Mao...
"aku ingin kamu terima kunci ini.. dan tinggalah bersamaku.." pintanya

Jun menatap lembut Mao yang masih terdiam.. ia meraih dagu Mao dan mendekatkannya ke wajahnya.. Mao membalas tatapan Jun.. hatinya bergetar melihat begitu lembutnya mata Jun..
Mao memang belum memberikan jawaban atas ajakan Jun untuk tinggal bersama beberapa waktu yang lalu.. banyak hal yang ia harus pertimbangakan sebelum menerimanya..
tapi kali ini hatinya sudah sepenuhnya yakin.. Mao tidak ingin berpikir panjang lagi.. Jun telah melamarnya beberapa waktu lalu dan sekarang hanya beberapa langkah lagi bagi mereka menuju gerbang pernikahan.. Jun sangat mencintainya dan ia pun sangat mencintai Jun.. jadi tidak ada jawaban lain selain YA..

Jun masih menatap dalam wajah Mao yang masih terdiam..ia mencoba mencari jawaban dari binar matanya..
lalu Jun tersenyum.. ia tau diamnya Mao adalah Ya, matanya menjawab Ya..
Jun mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi lalu mengecup bibir Mao.. Mao tersenyum dan membalas kecupan Jun..
Jun meraih leher Mao lalu menariknya perlahan dan dengan lembut Jun memberikan ciuman dibibir Mao.. ciuman yang sangat dalam.. Mao memejamkan matanya membalas ciuman Jun dan larut dalam kehangatan yang Jun berikan.. Jun tersenyum dalam hatinya.. balasan Mao ini adalah jawaban untuk permintaannya... ia bahagia sekali... ia menarik tubuh mao agar lebih dekat lagi dan memeluknya dengan erat...
"arigatou.." bisiknya mesra ditelinga Mao.. baginya ini hadiah valentine yang terindah yang ia dapatkan dari Mao.

Sabtu, 31 Januari 2009

Say that U love me...

Jun baru saja pulang dari studio.. ia dan rekan2nya di Arashi baru saja menyelesaikan rekaman terakhir untuk album terbaru mereka..
ia melihat arloji ditangannya sudah pukul 2 dini hari, Mao saat ini pasti sudah tidur pikirnya.. ia mengurungkan niatnya untuk membunyikan bell dan merogoh tasnya untuk mencari kunci apartemen lalu membukanya..

saat ia masuk , ia mendapati lampu ruang tengah masih menyala dan diliatnya Mao tertidur disofa dengan tangannya masih memegang novel favoritenya..

"baka.. kenapa kamu tertidur disini lagi..? kebiasaan.." gumamnya dalam hati

Jun mengambil novel dari tangan Mao pelan2 sekali takut membangunkannya namun Mao tetap terbangun dan terkejut melihat Jun sudah ada dihadapannya..

"tadaima.." sapa Jun pelan..

"okaeri.. " balas Mao

"sory aku ngagetin kamu.. kita pindah ke kamar ya.." ajak Jun tangannya siap menggendong Mao..
namun Mao dengan sigap menepis tangan Jun..

"ngga usah aku bisa sendiri kok.. lagian kamu pasti cape setelah seharian ini di studio.." lalu ia bangkit dari sofa dan beranjak menuju kamar

aneh.. pikir Jun.. ngga biasanya Mao bersikap seperti itu.. dari tadi pagi saat Jun akan berangkat ke Studio sikap Mao sudah terlihat berbeda.. lebih banyak diam dan hanya menjawab pertanyaan Jun seadanya..

"ada apa denganmu hari ini.." tanya Jun saat mereka sudah berada ditempat tidur

"ngga ada apa apa.. " jawab Mao pendek..

"jangan bohong.. aku tau pasti ada sesuatu yang mengganggumu.. apa soal rumor yang beredar..?" tanya Jun lagi..

"aku udah bilang ngga ada apa2 Jun.. aku hanya cape.. aku mau tidur.." lalu mao membalikan badannya membelakangi Jun

Jun belum puas dengan jawaban mao.. tapi ia tidak ingin mendesaknya..
Ia mematikan lampu duduk disamping tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya..
namun pikirannya terus menerawang.. Jun mencoba menebak nebak apa yang sedang mengganggu pikiran Mao..
belum lama ini ada rumor yang beredar mengenai dirinya dengan lawan mainnya difilm terbaru.. Aya Ueta..
banyak yang memuji acting mereka.. beberapa media menulis keserasian mereka sebagai sepasang kekasih onscreen.. tabloid2 gosip pun turut meramaikan berita mereka dengan rumor kalo mereka menjalin hubungan special dan sering bertemu diluar shooting..
Jun yakin berita2 itulah yang mengganggu pikiran Mao saat ini.. namun Jun menahan diri untuk bertanya pada Mao.. baginya bukan waktu yang tepat untuk menanyai Mao sekarang ini..


*****
keesokan harinya..
pagi2 sekali Mao sudah berada didapur.. ia sibuk menyiapkan sarapan untuk Jun.. hari itu Jun harus kembali ke studio karna ada meeting.. dan Mao sudah terbiasa membuka agenda Jun untuk mengetahui jadwal kegiatan Jun dan menyiapkan segala keperluan Jun.. Ia senang melakukan hal itu.. baginya ini latihan untuk membiasakan diri jika kelak ia menjadi ny matsumoto..

tidak berapa lama Jun keluar dari kamarnya dan menghampiri Mao

"ohayo.." sapanya

"ohayo.." balas Mao

Jun memegang pundak mao dari belakang.. lalu mengecup kepala Mao dengan lembut..

"hmmm apa nih yang kamu buat untukku pagi ini..?" tanyanya

"sandwich tuna.." jawab Mao pendek

Jun lalu menarik kursi dan duduk di meja makan.. la menuangkan cofe ke cangkir yang sudah Mao sediakan dan menghirupnya..

"ini sandwichmu.." Mao menyodorkan sandwich dipiring kehadapan Jun

"arigatou..." ujar Jun ia mengambil sandwich yang disodorkan sambil matanya memperhatikan wajah Mao

"ne.. Mao.. kamu masih ngga mau cerita ada apa denganmu..?" tanyanya sambil melahap sandwich kegemarannya itu..

Mao tidak menjawab.. ia menarik kursi dan duduk dihadapan Jun..

Jun masih memperhatikan wajah mao menunggu reaksinya namun tidak ada reaksi apapun hingga beberapa saat iapun bertanya lagi

"apa kamu mulai terpengaruh dengan gosip2 itu..?

"aku udah bilang.. aku ngga kenapa2..." kali ini mao menjawabnya namun matanya mencoba menghindar dari tatapan Jun

"ngga kenapa2..? tapi sikapmu itu bilang 'ada apa2'.. aku ngga ingin kamu termakan gosip murahan diluar sana tentang aku dan ueta.."

Mao diam dalam hatinya dia bergumam justru itu Jun yang sedang mengganggu pikiranku saat ini tapi aku ngga mau kamu tau...

Jun semakin serius menatap Mao
"hey.. kamu mulai percaya dengan mereka?" tanyanya..

"Jun.. aku lebih mempercayaimu dibanding mereka.. kamu jangan kwatir.. "jawab Mao

Mao berdiri hendak beranjak dari meja makan.. ia berusaha menghindari tatapan Jun yang mulai membuatnya kikuk.. tapi tangan Jun menahannya..

"bagaimana aku ngga kwatir kalo kamu ngga bilang alasan dari sikapmu ini.."

Jun lalu berdiri dan menarik tangan Mao agar lebih mendekat ..
namun tiba2 HP Jun berbunyi dan ia segera mengangkatnya..

"ya sho... ada apa..?" tanyanya
"aku akan terlambat... kalian bisa mulai saja tanpa aku dulu..." lalu menutup HP nya

"pergilah.. mereka udah nunggu distudio kan..?" Mao berusaha menghindar dari pertanyaan Jun

"aku ngga akan pergi sebelum kamu cerita.."

"aku harus cerita apa..? sudah aku bilang ngga ada apa2... mungkin aku hanya kecapaian.. nanti malam saat kamu kembali aku akan seperti biasa lagi.. aku janji.." ujar Mao mencoba meyakinkan Jun

tapi Jun masih tetap ditempatnya matanya tidak lepas dari Mao.. dan ini membuat Mao bertambah kikuk.. tatapan Mata Jun dan sorot matanya selalu membuat Mao tidak berdaya.. mata itu seolah2 sedang membaca pikirannya dan juga perasaannya..

"pergilah.. bukankah meeting kali ini sangat penting.. dan mereka sudah menunggumu.." pintanya

"sudah kubilang aku takan pergi.." jawab Jun tegas..

"Matsumoto Jun sejak kapan kamu mengabaikan urusan yang berkaitan dengan Arashi... bukankan Arashi yang terpenting buatmu... lagipula masalahku ini tidak terlalu penting buatmu.." sekali lagi Mao mencoba meyakinkan Jun

"sejak cincin itu ada dijarimu.. " Jun menunjuk cincin dijari manis mao.. cincin berlian yang ia berikan sebagai tanda keseriusannya dengan mao..

"sejak saat itu kamulah yang terpenting buatku.." lanjutnya

Mao terdiam.. ia tidak tau harus berkata apa.. Jun pasti tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum ia cerita masalah yang sedang mengganggu pikirannya sekarang ini..

Mao menghela nafas panjang menenangkan dirinya.. lalu ia berkata pelan..

"maafkan aku Jun.. jangan desak aku terus.. aku hanya butuh waktu untuk sendirian.. aku janji ini ga akan lama.. please ngertiin aku.. sekarang pergilah.. jangan kwatirkan aku.. ngga ada hal serius yang harus aku ceritakan ama kamu.."

jun mendekatkan wajahnya ke Mao.. matanya menatap mao dengan tajam

"aku ngga percaya kalo ngga ada hal yang serius.. aku tau kamu Mao.." ujarnya

"bukannya dulu kamu yang bilang kalo kita harus berbagi.. kamu juga yang bilang aku adalah bagian dari dirimu.. tapi sekarang, untuk sekedar tau apa yang sedang mengganggu pikiranmu aja aku ngga berhak.. kamu tempatkan aku dimana..?" suara Jun mulai meninggi.. rasa kecewa terlihat jelas diraut wajah Jun

ia lalu mengambil tasnya dan berlalu dari hadapan Mao..

"aku benar2 merasa tidak berguna.." ia meninggalkan Mao yang masih terdiam ditempatnya

didepan pintu Jun berhenti sebentar lalu menoleh kearah Mao..

"kamu perlu waktu untuk sendirian.. baiklah aku beri sebanyak yang kamu butuhkan.. dan aku tidak akan bertanya lagi.. " lalu menutup pintu apartement dengan kuat

Mao terduduk di kursi dengan lemas.. ia sadar telah mengecewakan Jun dengan sikapnya..
ia juga menyalahkan dirinya yang tidak bisa berlaku wajar dihadapan Jun..

apa yang Jun sangkakan mengenai rumor itu memang benar adanya..
Mao sangat terganggu dengan isue yang beredar.. tapi bukan berarti ia tidak percaya dengan Jun..
Mao tau tidak ada wanita lain dihati Jun kecuali dirinya dan Mao tau bagaimana besarnya cinta Jun untuknya..
namun mendengar rumor yang beredar hati Mao terasa sakit.. Ia tidak bisa menampik rasa cemburu.. ia tidak tahan mendengar orang2 berbicara tentang Jun dan Aya Ueta.. rasanya ia ingin membungkam suara2 itu dan berteriak akulah kekasih Jun bukan Aya.. akulah wanita yang selama ini mengisi hati Jun bukan Aya.. tapi ia sadar itu tidak mungkin dilakukan.. bahkan untuk meminta Jun mengklarifikasi kabar itupun rasanya tidak mungkin.. ia tau resiko mencintai seorang Matsumoto Jun.. bukan sekali ini Jun diisukan dekat dengan lawan mainnya.. tapi ntah kenapa rumor kali ini terasa sakit buatnya..

Mao masih belum beranjak dari tempat duduknya.. matanya terpejam.. dipelupuk matanya masih terbayang wajah kecewa Jun...

"maafkan aku Jun.." gumamnya..

"aku ngga bisa cerita mengenai perasaanku ini... aku tidak ingin kamu melihat kelemahanku..."

ia tertunduk dan perlahan membuka matanya.. ia melihat cincin yang melingkar indah dijari manisnya lalu perlahan menyentuhnya dengan lembut...

"cincin ini mewakili diriku.. mewakili hatiku.." kata2 Jun yang tulus saat itu seolah sayup terdengar kembali ditelinga Mao... kata2 itulah yang Jun utarakan saat melamar dirinya...

"aku ingin kamu menjadi ibu dari anak2ku.."

Mao memejamkan matanya kembali... sekarang apa yang ia Mau...? Jun telah memberikan segalanya untuk nya.. dirinya dan juga hatinya...
bahkan Maolah sekarang orang yang terpenting dalam hidup Jun

"sejak cincin itu ada dijarimu.. sejak saat itu kamulah yang terpenting buatku.."

Jun menempatkan dirinya bahkan diatas arashi bukankah itu lebih dari segalanya dibanding sekedar pengakuan orang lain akan status hubungannya dengan Jun..?
lalu apalagi yang ia inginkan..? mungkin ia merasa lelah dengan hubungan rahasia yang ia jalani bersama Jun.. tapi apakah hanya ia yang lelah..? bagaimana dengan Jun..? ia tau benar buat Jun hal ini sama beratnya..

Mao menarik nafas panjang.. mengapa ia bisa seegois ini...??



****

di studio..
Sho memperhatikan Jun yang duduk sendiri dipojokan ruang santai sambil mempermainkan HPnya...
sebagai teman yang telah lama mengenal Jun ia tau ada persoalan yang sedang menghinggapi sahabatnya itu..
ia lalu mendekati Jun dan menepuk bahunya...

"hai.. sedang apa..?" tanyanya lalu duduk disebelah Jun

"dari tadi aku liat kamu cuman mainin HP.. ragu mo nelpon seseorang..?" tanyanya lagi...

Jun menoleh sebentar kearah Sho.. lalu kembali memainkan HP nya...

"kalo kamu mau berbagi denganku.. aku siap menjadi pendengar yang baik Jun.."

Jun menghela nafas panjang.. iya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.. matanya menerawang kelangit2...

"aku hanya bingung dengan sikap wanita..." katanya lirih...

"ho ho.. kenapa emangnya.. bukannya kamu ahlinya dalam menghadapi wanita..?" seloroh sho..

jun menoleh ke sho lagi dengan dahi berkerut lalu meluruskan kembali posisi duduknya..

"aku lagi bingung sama Mao.. sikapnya aneh dari kemaren banyak diam tapi saat aku tanya jawabannya ngga ada apa2.." lanjut Jun

"mmmm.. lagi bulannya kali..." sekali lagi sho mencandai Jun namun segera menghentikannya melihat wajah Jun yang semakin serius..

"sory.. sory.. aku becanda..." katanya

"apa karna gosip tentang kamu dan ueta..?"

Jun menggelengkan kepalanya... "entahlah..."

"hmmm... mungkin saja gosip itu penyebabnya.. siapapun pasti cemburu kalo ada diposisi Mao.." sho mencoba menarik kesimpulan

"mungkin aja.."ujar Jun

"aku lebih lega jika persoalannya hanya cemburu... yang aku kwatirkan jika dia mulai lelah menghadapi gosip yang sering kali menyerangku.."

"no.. no..no.. jangan berfikir terlalu jauh... mao bukan cewe yang lemah dan gampang menyerah kok..." Sho mencoba menenangkan

"mending kamu biarin aja dulu.. mungkin dia butuh waktu untuk sendiri Jun.."lanjut sho

"memang itu yang dia minta.. dan itu yang membuatku marah pagi ini.."

"are?.. ternyata tabiat burukmu dipagi hari ngga berubah ya... sangat gampang emosi.." sho memandang temannya ini dengan pandangan serius...

"aku rasa dia memang hanya butuh waktu untuk sendiri.. "lanjut sho

"kadang kita juga seperti itu kan... lagipula ngga semua persoalan bisa kita share dengan pasangan.. apalagi jika itu bisa membuat keadaan menjadi ngga enak.. kadang kita hanya butuh menyendiri untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.." Jelas Sho..

"beri dia ruang sedikit untuk dirinya sendiri.. aku yakin Mao ngga bermaksud main rahasia2an denganmu.. dia enggan membicarakannya denganmu karna mungkin saja kalo dia cerita justru bisa bikin keadaan jadi ngga enak.. "

"tapi aku merasa tidak dibutuhkan dan itu sangat tidak aku sukai.." timpal Jun..

"hey.. sedikit mengalah lah.. jangan egois gitu.. dengan kamu memberi dia ruang, kamu sudah membantunya Jun.. tetap berdiri dibelakangnya.. jika memang dia membutuhkanmu pastinya dia akan datang padamu segera... jangan terlalu menekan dia.. "

Jun mendengar kata2 sho dengan serius.. apa yang disampaikan sho itu benar.. dia menyadari terkadang dia terlalu menguasai mao sehingga semua hal yang terjadi dengan Mao ia harus tau.. ia tidak menyadari kalo hal itu mungkin saja menjadi tekanan buat Mao..

"mmm mungkin kamu benar sho.. mungkin benar dia hanya butuh waktu untuk sendiri.. aku ngga seharusnya terlalu kwatir dan ngga seharusnya aku marah.."

Jun menepuk pundak sho "arigatou sho.. kamu sangat membantuku.." katanya

sho membalas dengan menepuk kembali pundak Jun..

"sama2.. itulah gunanya teman kan..."

"segeralah minta maaf pada mao.." sarannya lalu berdiri dan menarik tangan Jun

"ayo kita gabung lagi dengan yang lainnya.. pembahasan kita mengenai cover album kan belum selesai.."

Jun bangkit mengikuti ajakan Sho namun tiba2 HPnya berbunyi... Jun segera membukanya.. ada message dari Mao...

"aku udah ngga butuh waktu lagi yang aku butuhkan sekarang ini kamu.. segera kembali setelah semua urusan kamu selesai.." Jun tersenyum membaca message mao lalu menutupnya..

Sho yang masih berdiri didekatnya memperhatikan Jun dan ikut tersenyum..

"pasti dari Mao kan..?" tanyanya

"he..em..."jawab Jun dengan senyum..



*****

Mao mengeluarkan beberapa dvd dari dalam tasnya.. ada beberapa film baru yang ia dan Jun belum sempat menonton.. mereka berdua sebenarnya sudah lama membuat list judul film yang ingin mereka tonton tapi karna kesibukan mereka berdua akhirnya hingga sekarang rencana menonton pun tertunda.. karna itu, tadi sepulang dari lokasi shooting Mao sengaja mampir sebentar di toko dvd langganan mereka untuk menyewa beberapa judul film yang sudah ada dalam list mereka..

baru saja Mao mencoba memutar salah satu film tiba2 bell apartemen berbunyi..
ia segera membuka pintu dan sebuah boneka beruang yang sangat lucu menyapanya dibalik pintu..

"heloo... aku teddy bear.. aku mencari seorang wanita yang memiliki senyum paling indah.. apa kamu bisa membantuku..?"

Mao sedikit terkejut namun kemudian tertawa melihat beruang lucu yang tiba2 muncul dihadapannya itu..

"siapa yang kamu cari..?" tanyanya..

"Aku mencari inoue mao.. yang katanya senyumnya mampu meluluhkan hati siapapun.." kata siberuang lagi.. kemudian jun pun muncul dihadapan mao dengan senyum

"tadaima.." katanya

"okaeri.." balas Mao..

Jun menempelkan wajah beruang lucu itu ke hidung Mao lalu memberikannya pada Mao..

"ini sebagai permintaan maaf atas sikapku tadi pagi.." katanya...

Mao menggelengkan kepala

"bukan kamu yang seharusnya minta maap tapi aku Jun... aku yang seharusnya terbuka sama kamu.. aku minta maap karna sudah bersikap.." belum habis mao berbicara telunjuk Jun sudah menempel dibibir mao..

"sssttt.. ngga apa2 kalo kamu ngga ingin cerita denganku.. aku mencoba paham.. lain kali beri tau aku jika kamu punya masalah dan hanya ingin sendirian.. aku ngga akan menekanmu seperti tadi pagi.. tapi aku tetap stand by.. jika ternyata kamu butuh aku.. aku selalu siap buatmu.."

Mao memandang Jun dengan tatapan haru.. matanya mulai berkaca-kaca..
melihat itu Jun segera menariknya kedalam pelukannya..

"baka.. segitu aja dah mo nangis..." godanya...

"aku ngga nangis.." sanggah Mao sambil mencubit pinggang Jun yang membuat Jun melompat kegelian..

"hey.. sudah berkali2 aku bilang jangan lakukan itu.." teriaknya

namun Mao tidak menghiraukannya ia tertawa sambil terus mencubit pinggang Jun kiri dan kanan..

akhirnya Jun berhasil menahan tangan Mao dan menarik Mao dalam pelukannya kembali..

"akhirnya aku temukan lagi tawa ceriamu ini.. aku kangen.." katanya ditelinga Mao..

Mao menyembunyikan wajahnya didada Jun dan memeluk Jun dengan erat

"bilang kalo kamu cinta aku.. itu akan membuat hatiku lebih tenang.." bisik Mao

Jun tersenyum lalu berkata.. "aku cinta kamu Mao.. sangat mencintaimu.." lalu memeluk Mao dengan lebih erat lagi...

Kamis, 08 Januari 2009

Mao.. Happy Birthday..



Jun memacu mobilnya dengan cepat.. malam ini dia harus segera sampai ke tokyo sebelum jam 12 malam..
ia baru saja selesai dari shooting PV terbaru Arashi di sebuah kota kecil didekat tokyo..
sepanjang jalan ia terlihat bahagia.. mulutnya tak berhenti bersenandung mengikuti lagu yang terdengar dari stereo mobilnya..
disebelah jok kursinya ada sebuah bungkusan berwarna merah dengan pita keemasan yang sangat cantik..
sesekali ia melirik bungkusan itu dan tersenyum..
besok adalah ulang tahun Mao.. ia ingin menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat pada Mao..
dan ia sudah membayangkan wajah Mao yang penuh dengan senyum ceria serta mata yang berbinar menyambutnya bahagia didepan pintu..
ekspresi itu lah yang telah banyak merubah dirinya dan senyum itu pula membuatnya jatuh cinta entah yang ke berapa ribu kalinya pada sosok mungil yang sangat mempesona itu..
bagi Jun, Mao lah satu2nya gadis yang mampu membuatnya merasakan getaran cinta..
dan ia sangat mencintai Mao.. karna itu dihari yang special ini ia ingin membuat sebuah kejutan yang tak akan Mao lupakan

setelah hampir 3 jam Jun mengendarai mobilnya akhirnya sampai juga ia di depan apartement Mao tepat jam 12 teng..
ia segera berlari menaiki tangga menuju pintu apartemen.. jantungnya berdegub kencang menahan rasa kangen yang menderanya sepanjang perjalanan..
ia membunyikan bell dan berharap Mao belum tertidur malam ini..

"yaa.. tunggu sebentar.." sebuah jawaban datang dari dalam...

syukurlah Mao belum tidur.. gumamnya dalam hati..

tidak lama pintu apartement terbuka dan wajah yang membuatnya kangen setengah mati keluar dari balik pintu.. Mao tersenyum menyambutnya dengan senyuman yang paling manis

"happy birthday sayang..." Jun memberi kecupan dipipinya dan memeluk erat tubuh Mao...

"makasih sayang.." jawab Mao

Jun lalu memberikan bungkusan yang dibawanya..
"untuk kamu.." katanya

"waaw.. makasih ya.." lalu Mao menarik Jun masuk

didalam ternyata Mao sudah menyediakan makanan kesukaan Jun...

"aku tau malam ini kamu pasti datang.. karna itu aku buatkan ini untukmu.." katanya sambil mempersilahkan Jun duduk..

"kenapa kamu bisa yakin aku akan datang..?" tanya Jun..

"hatiku yang bilang.." jawab Mao.. sambil memegang dadanya..

Jun tersenyum dan memberi Mao kecupan dikening..
"arigatou.." katanya lalu duduk untuk bersantap

******

"aku buka sekarang ya sayang..?" tanya Mao setelah mereka selesai bersantap

"yoo.. bukalah.."

Jun merebahkan dirinya disofa mencoba meluruskan badannya yang terasa capai..
Mao mulai membuka bungkusan yang Jun beri.. dan tertawa begitu melihat isi didalamnya..

"KAWAIII Nee..!! tapi buat apa ini Jun.. apa kamu ngga salah bungkus..?" tanyanya keheranan sambil mengeluarkan sepasang sepatu bayi berwarna pink yang terlihat sangat lucu..

Jun menggelangkan kepala lalu bergeser duduknya mendekati Mao..
"waktu aku nyari perlengkapan shooting.. aku tertarik untuk mengunjungi stand perlengkapan anak2.. dan saat aku lihat sepatu ini.. aku langsung teringat kamu.." katanya

"teringat aku..?" tanya Mao lagi keheranan..

"iya.. waktu melihatnya aku tertarik sekali dengan bentuknya yang lucu dan aku berfikir kalo kamu saat itu bersamaku pasti akan berfikir sama denganku dan akan teriak... KAWAII NEE... seperti tadi.."

Mao tertawa mendengarnya...
"hmmm.. ini emang lucu banget Jun dan sudah pasti aku akan teriak KAWAiii.."

"ini bukan kado ulang tahun buatmu.. tapi ini sebuah harapan yang aku titipkan sama kamu.. kamu simpan baik2 ya.."

Jun melingkarkan tangannya dileher Mao dan membawanya kedalam dekapannya...
Mao hanya terdiam ia belum mengerti apa yang Jun maksudkan dengan ucapannya itu..
lalu Jun melanjutkan..
"suatu saat aku ingin melihat bayi kita memakainya.. itu yang aku maksud dengan harapan.. kamu ngerti kan..?" tanyanya lagi...

"aku ingin kamu menjadi ibu dari anak2ku.. karnanya aku titipkan itu sama kamu.."

Jun lalu melonggarkan dekapannya.. ia memandang wajah Mao dengan lembut.. tangannya masih menempel dileher mao..
"masih belum ngerti juga..?" tanyanya sekali lagi

Mao mengangguk pelan
"mmmm.. aku mengerti... ia pasti akan terlihat cantik dengan sepatu ini.. " katanya lalu tersenyum

"terima kasih sayang.. aku juga berharap bisa menjadi ibu dari anak2mu.."

perlahan Jun melepaskan tangannya.. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan seuntai pita lalu mengikatnya di jari manis Mao..

"dan ini kado ulang tahun dariku yang sebenarnya.." katanya sambil mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.. lalu menggantungkan benda itu dipita dan menarik pita lebih tinggi sehingga benda itu tersemat tepat dijari manis Mao...

Mao terkejut melihat cincin yang berkilau cantik sekali tersemat dijarinya..
ia memandangi cincin itu dengan wajah yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya..

"cincin ini mewakili diriku.. mewakili hatiku.." Jun berkata sambil membetulkan letak cincin itu dijari Mao lalu menarik tangan Mao dan menciumnya..

"aku hadiahkan diriku juga hatiku untukmu.." katanya lagi..

kali ini Mao tidak dapat berkata apa2.. ia tidak bisa menahan rasa bahagia..
ia tidak menyangka malam ini ia mendapatkan kado yang paling indah dalam hidupnya..
dan ia juga tidak menyangka Jun mampu merangkai kata2 yang membuatnya terharu..
dia sangat mengenal Jun.. Jun selalu bicara sesuai dengan apa yang ada dihatinya..
dan malam ini Jun memberikan dirinya dan hatinya untuk Mao membuat ia merasa menjadi wanita yang paling bahagia didunia.. hingga tak terasa matanya mulai berkaca2..

"heei... aku ngga bermaksud membuatmu menangis Mao.."ujar Jun tanganya memegang kedua pipi Mao sambil ibu jarinya menyekat air mata Mao yang mulai menetes..

"aku ngga mau melihat air mata kamu di hari yang bahagia ini.." katanya lagi..

"baka.. aku menangis karna terharu.." jawab Mao..

Jun tersenyum melihatnya... lalu ia mengecup kening Mao..
"happy birthday sayang.. semoga semua yang terbaik yang kamu dapatkan dalam hidupmu.." ucapnya..

Mao membalas senyuman Jun dan menjawab..
"arigatou Jun... kamulah hal yang terbaik dalam hidupku.. dan aku bahagia mendapatkanmu.."

Sabtu, 03 Januari 2009

"HUG"

"hwooaaaaahhhh.." Mao merentangkan kedua tangannya mencoba melonggarkan otot2nya yang masih kaku.. ia baru saja bangun.. matanya masih terasa mengantuk.. sebenarnya ia masih ingin tidur beberapa jam lagi namun pagi itu Jun akan datang ke Apartementnya. Mereka berdua berencana untuk menghabiskan waktu bersama.. dan mao harus bersiap sebelum Jun tiba..
Hug anjing kesayangannya berlari dan melompat kepangkuannya saat tau tuannya sudah bangun dari tidurnya

"ohayou Hug.." sapanya, ia mengangkat hug dan mendekatkannya ke wajahnya
"hari ini aku dan Jun akan menemanimu seharian penuh.. kamu pasti senang kan..?" katanya sambil
tersenyum lalu meletakan hug dilantai dan beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi..

Sebenarnya bukan hari ini saja Mao dan Jun menghabiskan waktu bersama.. dua hari sebelumnya mereka shopping sehari penuh lalu makan malam berdua di restoran favorite dan beberapa hari sebelumnya mereka juga menghabiskan waktu berlibur ke daerah pantai..
Mao dan Jun memang sedang punya banyak waktu free.. hal itu sudah mereka atur bersama agar bisa berbarengan menikmati masa istirahat setelah padatnya pekerjaan mereka di tahun 2008 lalu..
Jun setelah HYD F dan AAA 2008 concert belum ada project lain yang bisa menyita banyak waktunya saat ini ia masih menyeleksi beberapa dorama yang disodorkan kepadanya
demikian juga dengan Mao, setelah HYD F dan Anmitsu SP ia belum dipadatkan dengan jadwal shooting sampai Maret mendatang..
baru setelah Wisudanya dibulan maret ia akan kembali sibuk untuk shooting film barunya Boku no hatsukoi wo kimi ni sasagu.



Mao baru saja selesai memberi hug makan saat bell Apartemennya berbunyi..

"nah hug.. itu pasti Jun.." katanya sambil bergegas membukakan pintu untuk Jun

"ohayo..." sapanya begitu melihat jun berdiri didepan pintu

"ohayo.." balas jun.. kedua tangannya penuh membawa tas belanjaan

"ee.. apa ini..?" tanya Mao..

"bahan makanan.. hari ini aku akan masakan makanan buatmu sekalian ngajarin kamu masak.." jawab jun sambil berlalu menuju dapur

"ohayou hug.." sapanya saat melewati hug yang sedang asiek dengan makanannya..



Jun mulai mengeluarkan bahan2 makanan yang dia bawa dan mempersiapkan bahan2 itu diatas meja..
Mao berdiri di belakangnya mengintip dari balik punggung Jun

"hhmmm.. menu special apa yang mau kamu bikin buatku jun..?"

"udang saus pedas..."jawab jun sambil melemparkan celemek ke wajah mao.. "pake ini.."

"haiii.. sensei.. " Mao membungkukkan badannya dalam2 lalu memakai celemek yang diberikan Jun..

"baka.." jun tertawa melihat tingkah mao dan mendorong kening mao dengan telunjuknya..

"ok.. kita mulai.. tolong bawang bombay serta paprika kamu potong2.. aku akan siapkan udangnya.. setelah itu kamu perhatikan cara aku memasak.." perintah Jun

"haii.." sekali lagi Mao membungkukkan badannya kemudian mereka pun asiek dengan kegiatan memasak hari itu.

15 menit berlalu akhirnya makanan yang dibuat siap tersaji dimeja makan

"udang saus pedas inoue mao special.. itadakimas.." ujar Mao dengan wajah berbinar seperti anak kecil yang senang mendapatkan coklat kesukaannya.. melihatnya Jun hanya tersenyum dan mengikuti
"itadakimas.."

"setelah ini apa yang akan kita kerjakan hari ini..?" tanya Jun setelah mereka selesai bersantap

"membereskan rumah dan memandikan hug.." jawab mao..

"yosh.. kalo gitu serahkan urusan rumah padaku dan hug jadi urusan kamu.." Jun bangkit dari tempat duduknya bersiap membereskan peralatan makan namun mao menahannya

"eeiitt.. ngga bisa gitu.. kita janken pon dulu.. biar lebih menjunjung azas keadilan.." katanya sambil mengepalkan tangan mengajak Jun melakukan janken pon..
"yang kalah mandiin Hug.." katanya lagi..

"aku ngga mau.. hug itu urusan kamu.. lagipula aku ngga terbiasa ngurusin anjing.. dan kamu juga tau aku ngga suka binatang.."elak Jun

"kalo belum terbiasa.. ya sekarang waktunya membiasakan diri.. lagipula kalo kamu suka dengan tuannya kamu harus terima kami dalam satu paket.." desak Mao

"aturan dari mana itu..? aku tetep ngga mau.." Jun tidak menghiraukan Mao ia tetap membereskan piring2 yang kotor dan segera mengangkatnya dan membawanya ketempat cucian..
mao mengikutinya dari belakang sambil menggendong hug..

"hhmmm... kita blon melakukan junke pon lho.. tapi kamu keliatannya dah yakin kalah.. kamu takut kalah kan..?" godanya

kali ini perkataan mao menyentuh harga dirinya.. Jun paling tidak suka dengan kata "kalah.." dan mao sangat tau itu.
Jun membalikkan badannya kearah mao sambil mengepalkan tangannya bersiap melakukan junken pon..
"gunting.. kertas.. batu..." ujarnya.. daaan ternyata mao yang menang.. Mao tertawa terbahak sambil menyerahkan hug kepangkuan Jun..

Jun tidak bisa berkata apa2.. dia mengigit bibir bawahnya dan diam memandangi Mao dengan wajah do's
Mao mendekati Jun dan menepuk kedua pipi Jun..

"ini saatnya kamu mengakrabkan diri dengan hug.. my sweetheart.." katanya lalu mengecup pipi jun dan berlalu ke tempat cucian piring..

Jun tertunduk lesu.. kenapa hari ini dia harus berurusan dengan hug gumamnya dalam hati..



mereka menghabiskan waktu yang tersisa hari itu dengan bersantai sembari tiduran dilantai diruang tengah sambil mendengarkan lagu2 kesukaan mereka berdua dan membicarakan hal2 menarik..

"kamu pernah memikirkan tentang pernikahan mao..?" tanya jun ditengah obrolan

"he emm.." mao menganggukkan kepala..
"aku rasa yang namanya perempuan dari kecil sudah punya hayalan tentang pernikahan.. karna itu anak perempuan lebih suka main rumah2an dibanding anak laki laki.. begitu juga denganku.. dulu aku berpikir akan menikah diusiaku sekarang ini dan memiliki anak perempuan yang lucu.. kayanya menarik banget kalo aku bisa memiliki anak diusia muda sehingga saat anakku beranjak remaja perbedaan kita tidak terlalu jauh.." jawab mao panjang..
"sayang.. hal itu ngga mungkin karna aku terlanjur masuk kedunia entertaiment seperti sekarang ini.." lanjutnya..

Jun tersenyum mendengar kata2 mao.. lalu ia beranjak mendekati Mao menyentuh perut mao dengan lembut dan menciumnya..

"hei.. ada apa..?" tanya mao heran

"mendengar omonganmu aku jadi membayangkan ada seorang bayi diperutmu saat ini.. bayi kita.." jawabnya sambil tersenyum

Mao tertawa mendengarnya
"itu akan terjadi 4 tahun mendatang Jun.."

"ya.. aku tau itu.. tapi 4 taun waktu yang cukup lama.." jun kemudian membaringkan badannya disamping Mao

"kurasa ngga.. kamu ingat kita sudah menjalani hubungan ini selama 3 tahun.. tapi rasanya baru kemaren.. jadi menunggu 4 tahun lagi bagiku tidak akan terlalu lama.." Mao meyakinkan

Jun memandang Mao lalu menggeser posisinya lebih dekat lagi dengan mao..

"kamu bener.. 3 tahun rasanya baru kemaren.. kita pasti bisa menunggu 4 tahun lagi untuk mewujudkan mimpi kita.." ujarnya pelan..
"kamu tau impian terbesarku..?" tanyanya setengah berbisik dikuping Mao..
"menikahimu dan kita akan membentuk keluarga yang bahagia.. dimana hanya ada aku, kamu dan anak2 kita dan tentunya bersama hug juga.."

Mao tersenyum mendengarnya..
"hug juga..?" tanyanya

"he em.." jawab jun lalu dengan lembut mengecup kening mao lalu hidung Mao dan terakhir bibirnya mendarat dibibir Mao..

namun.. belum puas rasanya Jun merasakan hangatnya bibir Mao tiba2 saja Hug melompat diantara tubuhnya dan tubuh Mao..

"aaaaaaaa.... Mao... lain kali bisa ngga kamu ikat Hug disaat kita sedang bermesraan seperti ini.." teriaknya kesal.. yang dijawab Hug dengan gonggongan kecil..