Oneshot
01. Believe me...
02. Surprise...
03. U'r My Man...
04. "HUG..."
05. Mao... Happy birthday...
06. Say Yes.. as my valentine gift...
07. Say that U Love Me...
08. Aku memang cemburu...
09. Miracle gift...
10. Oom Ochan ku...
11. Selamat datang jagoan kecil...
Ongoing
01. A Perfect Happiness [sequel: Selamat datang jagoan kecil...]
Senin, 13 Agustus 2012
Rabu, 12 Agustus 2009
a perfect happiness... [sequel : Selamat datang jagoan kecil...]

Jun sedang sibuk di ruang kerjanya.. ia sedang mereview kembali performance Arashi di concert belum lama ini... namun kesibukannya itu tiba2 saja terhenti oleh tangisan Mio yang terdengar dari ruang atas
"papa... papa... mama... berdarah..."
Jun segera melempar remote yang dipegangnya dan berlari untuk melihat apa yang terjadi...
di ujung tangga ia melihat Mio menangis sesegukan tangannya menutupi kedua matanya...
jun menghampirinya dan memeluknya...
"ada apa...?" tanyanya...
Mio menunjuk kearah kamar...
"mama berdarah papa..." katanya sambil menangis...
Jun kaget mendengarnya.. ia melepas pelukannya dan menyerahkan Mio pada baby sitternya yang sudah berdiri di dekat mereka lalu berlari ke kamar...
ia melihat Mao sudah tergeletak di lantai dengan tangannya memegang perut menahan sakit...
Jun segera berlari menghampirinya
"ya Tuhan... ada apa Mao...?" tanyanya setengah berteriak.. wajahnya terlihat panik... ia mencoba mengangkat Mao ke tempat tidurnya
Mao sudah tidak dapat berkata apa2 dia hanya bisa mengerang kesakitan...
Jun semakin panik saat melihat darah yang keluar dari celah kedua kaki Mao...
"bertahanlah aku akan memanggilkan dokter..." katanya
mao menarik tangan Jun dan memegangnya dengan kuat...
"s a k i t..." erangnya...
"iya... tahan sebentar ya sayang..." bisik Jun mencoba menenangkan Mao
Jun mengambil telpon disamping tempat tidurnya lalu tangan yang bergetar segera memijit no telpon RS...
tidak berapa lama kemudian ambulan dan team medis tiba di kediaman Jun..
dan dengan cekatan mereka segera memberikan pertolongan pada Mao..
"maaf.. Anda sebaiknya diluar saja..."
salah seorang dari team medis itu meminta Jun untuk keluar dari kamar agar mereka dapat dengan leluasa menangani Mao...
Jun mengangguk lalu dengan langkah perlahan mundur... ia hanya bisa berdiri di pintu menyaksikan mereka menangani Mao... di wajahnya terlihat raut kecemasan...
"ya Tuhan... selamatkan istri dan anak ku..." do'anya dalam hati...
"pa... Mama mau dibawa kemana...?" Mio bertanya pada papanya saat melihat team medis menggotong Mao untuk dipindahkan ke Ambulance...
"mamah mau dibawa ke Rumah sakit..." jawab Jun
"Mio ikut..." pinta Mio merengek...
Jun menggendong Mio dan berkata pelan...
"Mio tunggu oom Nino ya... nanti baru ke Rumah Sakit menyusul papa dan mama..."
"ngga Mau... Mio ikut sama papa sekarang..." mio tetap merengek...
"Mio ngga bisa ikut sekarang... papa udah telepon Oom Nino.. sebentar lagi dia kesini..."
"NGGAK.. mio ngga mau nunggu Oom Nino..." kali ini tangisan Mio bertambah keras dan itu membuat Jun hilang kesabaran...
"M I O... kali ini kamu ikut apa kata papa..." bentaknya
"tolong bawa Mio ke kamarnya dan suruh tunggu Oom nya..." pinta Jun pada baby sitternya lalu segera menyusul Mao naik ke Ambulance...
Sepanjang perjalanan Jun memegang tangan Mao mencoba menenangkan istrinya dan terus menjaga agar Mao tetap sadar...
"tolong anda ajak komunikasi agar istri anda tetap sadar..." itu yang diminta salah satu team medis padanya...
Jun mendekatkan kepalanya ke telinga Mao...
"Mao... denger aku... kamu ngga boleh tidur... bertahan ya..." pintanya pada Mao...
Mao mempererat pegangan tangannya...
"J u n..." panggilnya
"iya... "
"sakit sekali...."ujar mao lirih...
"aku tau... tapi bertahanlah... kamu pasti bisa..."Jun membelai lembut kening istrinya...
"kamu wanita yang kuat... aku yakin kamu mampu melawan rasa sakit ini..."jun mencoba tersenyum meski hatinya tidak kuasa melihat Mao kesakitan seperti itu...
hati Jun sakit melihat Mao seperti itu... ia mencoba menguatkan hatinya dan mulai mengalihkan dengan bercerita...
"kamu inget saat kita shooting hana yori dango return.. saat kita harus shooting ditengah salju yang dinginnya sampai -10 derajat...?" Jun mencoba membuka memory mereka untuk membuat Mao tetap terjaga..
"saat itu kita udah kedinginan setengah mati... tapi kamu malahan masih bisa becanda.. masih bisa lari sana lari sini... aku sampe mikir.. apa sih yang kamu makan hari itu sampe bisa bikin kamu hyper seperti itu... "
Mao tertawa tertahan mendengar ucapan Jun...
"malah ada yang nanya... Mao itu energy nya ngga ada abis nya emang pake batere apaan sih dia...? lha aku sendiri aja bingung kok..." kali ini Jun yang tertawa dengan ucapannya...
Jun menarik tangan Mao dan membelai lembut punggung tangannya...
"aku mengenal sekali istriku ini adalah wanita yang memiliki semangat yang tinggi... dan itu yang selalu aku kagumi dari kamu... " Jun berhenti sejenak... menarik napas lalu..
"kamu tau? semangatmu itu menular sama aku... aku selalu merasakan semangat yang sama saat kamu berada di dekatku..."
Jun memandang wajah Mao dengan lembut lalu melanjutkan lagi kata-katanya...
"dan yang aku ingat... selama kita hidup bersama.. selama kita melewati pernikahan kita.. aku ngga pernah melihat kamu mengeluh sedikit pun... walau disaat jadwal pekerjaan kamu padat sekali dan kamu masih harus mengurus aku dan mio tapi ngga pernah sekalipun kata lelah keluar dari bibirmu ini... " Jun menempelkan telunjuknya dibibir Mao...
"yang selalu terlihat dari bibir ini adalah senyuman... kamu luar biasa... aku beruntung memiliki kamu... "
Mao tersenyum ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Jun... Jun mencoba membalas senyuman Mao walau matanya mulai terlihat berkaca2...
"karna itu... aku percaya kamu pasti bisa melewati ini... aku yakin..." ucap Jun dengan suara parau...
"dan aku bersama kamu... kita bisa melewati ini..."
Mao mengangguk pelan didalam hati nya ia berjanji pada Jun ia akan berjuang demi Jun dan anak yang dikandungnya...
hampir seperempat jam perjalanan mereka pun tiba di Rumah Sakit... Mao segera dilarikan ke ruang operasi... di depan ruang operasi mereka berhenti sebentar..
Jun menundukan badannya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Mao...
"berjuanglah sayang... demi aku dan anak2..." pintanya...
"aku menunggu kamu disini...." Jun mengecup kening Mao... dan perlahan melepaskan tangan Mao...
Mao segera dibawa masuk kedalam ruangan operasi lalu pintu pun ditutup...
Jun menarik napas panjang mencoba menenangkan hatinya... ia menyandar tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya... airmata yang dari tadi dicobanya ditahan akhirnya keluar juga...
to be continued....
Kamis, 21 Mei 2009
aku memang cemburu..!!

Title : aku memang cemburu..!!
Author : Kamaytea
Rating :
Genre : Romance
Summary : Jun cemburu melihat kedekatan Mao dan Okada.. lalu mereka
bertengkar... tapi pada akhirnya pertengkaran mereka berakhir
manis... *sweet kaya gula...:)*
Disclaimer: kadang pertengkaran juga bisa membuat ikatan cinta semakin kokoh lho...
cuman jangan keseringan aja berantemnya... ;)
Jun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.. disampingnya Mao nampak cemas dan keheranan..
sesekali ia memperhatikan wajah Jun yang terlihat marah... Mao tidak mengerti apa yang menyebabkan Jun tiba2 saja berwajah masam seperti itu
malam itu Jun menjemputnya dari locasi shooting Film terbarunya yang ia bintangi bersama Masaki Okada "Boku no Hatsukoi wo Kimi
ni Sasagu"..
sebelumnya di telpon saat Jun memberitahu akan menjemputnya nada suaranya terdengar biasa saja tidak ada tanda-tanda ia marah ataupun kesal.. malah sebaliknya ia terdengar senang karna hari itu mereka berdua sama2 bisa pulang lebih awal dari biasanya.. itu artinya mereka berdua punya waktu lebih lama untuk bisa menikmati malam berdua dan Jun berencana membuatkan makan malam special..
tapi sekarang justru ia menampakan wajah dinginnya bahkan ia tidak membalas sapaan Mao saat masuk kedalam mobil tetapi segera menjalankan mobilnya...
sepanjang jalan mereka hanya terdiam.. di dalam hati mao bertanya2 apa yang membuat Jun berubah sedemikian cepatnya... apa yang salah dengan dirinya... namun Mao tidak menemukan jawaban dan akhirnya setelah sekian lama mereka diam ia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan...
"kamu kenapa sih...?" tanyanya memecah kesunyian...
Jun diam tidak menjawab... pandangannya tetap lurus kedepan...
"kamu marah...? karna kelamaan nunggu...? atau ada masalah lain...?" mao mencoba menebak namun Jun masih saja diam...
"Jun.. ngomong dong... kamu bikin aku cemas.." Mao menarik tangan Jun namun Jun menepisnya...
Mao kaget melihat reaksinya itu... mao sadar ini ngga main2.. Jun benar2 marah... tapi marah kenapa...? apa karna ia terlalu lama menunggunya? "hmmm mungkin saja karna itu..." pikirnya dalam hati
"kamu pasti marah karna kelamaan nunggu kan...? maafkan aku... tadi ngedadak ada breafing dulu..." lanjutnya mencoba menjelaskan namun Jun tetap tidak bergeming pandangannya hanya lurus ke depan memperhatikan jalanan
"ok... kalo kamu ngga mau bicara ya sudah... lagipula ngga ada ruginya buatku... aku juga merasa tidak melakukan kesalahan apapun hari ini..."
Mao membuang pandangannya kearah jendela disampingnya ia tidak ingin perduli lagi dengan amarah Jun yang ngedadak seperti itu... dan mereka pun kembali diam
"aku kesal... tapi bukan karna itu..." Jun akhirnya bicara juga setelah mereka lama terdiam
Mao menoleh kearah Jun memperhatikan wajah Jun dengan serius
"kamu tadi ngapain sih ama okada...?" tanya Jun
"okada...? aku ama okada...? aku ngga ngapa2in ama dia..." jawab Mao
"ngga ngapa2in...? tadi kamu bicara sama dia pake bisik2 lalu cekakak cekikik itu apa...?" tanya Jun lagi dengan suara yang mulai sedikit meninggi
Mao diam bola matanya ditarik keatas mencoba mengingat2 apa yang terjadi tadi.. apa yang ia dan okada lakukan yang membuat Jun kesal seperti itu... lalu dia pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya...
"oooo... yang itu..." mao mulai mengingat kejadian tadi saat dirinya dan okada membicarakan tentang juru kamera yang sedang menshoot adegan mereka tiba2 kentut dan suaranya membuyarkan konsentrasi mereka dan bagi mereka kejadian itu lucu sekali
"aku ama okada lagi ngomongin cameraman abis lucu banget..." katanya masih diringi tawa kecil
"kamu tau ngga Jun masa dia...... " Mao mencoba menjelaskan namun belum selesai Mao bicara Jun sudah memotongnya...
"tapi kamu kan ngga perlu kegenitan seperti itu saat bicara sama dia..." katanya
Mao segera menghentikan tawanya mendengar perkataan Jun yang pedas...
"apa...??? aku genit...??" tanyanya
"ya... terlalu genit... aku ngga suka kamu seperti itu didepan dia..." suara Jun terdengar ketus
"heeeiiiii.... rasa nya sikapku biasa aja... ngga ada yang berlebihan apalagi genit..." sahut mao... ia nampak tidak suka dengan perkataan Jun dan memperlihatkan wajah cemberutnya
"lagi pula dia lawan mainku rasanya wajar kalo aku bersikap akrab sama dia..."
"tapi apa perlu sampai sedekat itu...?" tanya Jun lagi
"lho emangnya ada yang salah... aku merasa sikapku wajar.. sama aja dengan sikapku ke shun, toma atau siapapun..." Mao mencoba memberikan pembelaan diri
"heii... shun, toma itu berbeda... aku mengenal mereka dan aku tau hati mereka seperti apa..."
"emang apa yang membedakan okada dan mereka... bagiku mereka sama aja teman2 yang menyenangkan.. dan tidak lebih..." bantah Mao
"Ooo... sangat berbeda... okada menyukai kamu..."
"apa...?? okada menyukaiku...?" mata Mao terbelalak nampak kaget lalu...
"kamu jangan bicara sembarangan... "
"aku ngga bicara sembarangan... aku melihat sendiri.. bagai mana ia memperhatikan kamu.. memandang kamu.. tersenyum sama kamu..."
"aku ngga merasa okada seperti itu... kamu aja terlalu curigaan..." bela Mao
"aku ini laki2 sangat mengerti arti dari sikap dia sama kamu.. dan kamu.. kamu terlalu naif jika tidak menyadari hal itu..." Jun memandang Mao dengan tatapan yang sinis
"sekarang kamu bilang aku naif...? kamu udah keterlaluan Jun..." Mao membalas tatapan Jun tak kalah sinis
"ya... naif... dan kamu terlalu berlebihan meladeni dia..." lanjut jun..
Mao menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi dan melipat tangannya didada.. iya nampak kesal menghadapi Jun yang menurutnya terlalu berlebihan...
"kamu yang terlalu berlebihan mencurigai dia..." katanya kemudian..
"aku bicara yang sebenarnya... dan kamu... tingkah kamu tadi membuat aku bertambah kesal..."
"tingkah aku yang mana...? kamu bicara begitu sepertinya kamu ngga mempercayai aku..." kali ini nada suara mao yang terdengar tinggi..
"aku ngga bilang aku ngga percaya kamu... aku hanya mengingatkan kamu untuk membatasi sikap kamu ke okada.."balas Jun
"udah udah.. aku ngga pengen nerusin pembicaraan ini ... lebih baik kamu turunkan aku disini..." pinta Mao..
"hei.. aku blom selesai bicara..." Bentak Jun sambil menarik kencang tangan mao...
"turun kan aku disini..." teriak Mao... ia sudah tidak bisa menahan kekesalannya..
Jun akhirnya menepikan mobilnya karna Mao memaksanya...
setelah mobil menepi Mao segera turun dari mobil dan membanting pintu mobil dengan keras dan diwajahnya tampak raut kekesalan...
Jun yang juga masih marah tidak bicara apa2 lagi dan hanya menjalankan kembali mobilnya meninggalkan Mao sendirian di jalan...
tidak lama setelah Jun berlalu Mao menyetop sebuah taxi... malam itu ia memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya... ia masih merasa kesal dengan ucapan Jun tadi.. dan pertengkaran mereka kemungkinan masih bisa berlajut jika ia tidak memutuskan untuk turun dan memilih untuk tidak pulang ke Apartement mereka...
sebenarnya Mao amat mengenal Jun yang punya sifat tamperamen seperti itu.. jika ada hal2 yang ia tidak suka ia akan langsung menunjukan kedo's-annya..
tapi walaupun mao mencoba mengerti Jun.. tetap saja disaat mereka sedang bertengkar dan Jun mengeluarkan kata2nya yang pedas dan kasar hati mao selalu kesal dibuatnya..
dan ia selalu memilih untuk menghindarinya sampai saatnya Jun reda dengan amarahnya itu...
Jun menghentikan mobilnya di tepian sungai tidak jauh dari apartement mereka.. ia merasa malas sekali untuk pulang... ia yakin malam ini mao pastinya tidak akan pulang ke Apartement setelah apa yang terjadi tadi...
Jun menarik sandaran kursinya kebelakang lalu merebahkan tubuhnya... pikirannya tertuju pada mao dan pertengkaran mereka tadi..
ada penyesalan dihatinya karna ia telah berbicara cukup keras pada Mao dan sudah menghancurkan rencana mereka malam ini... seharusnya mereka memanfaatkan malam ini dengan baik mengingat jarang sekali mereka punya waktu untuk bisa berlama2 bersama ditengah padatnya jadwal pekerjaan mereka...
Jun sadar kalo semua ini adalah kesalahannya seharusnya dia bisa lebih mengontrol emosinya...
Mao tidak salah.. ia hanya bersikap sewajarnya kepada seorang teman kerja.. dan memang sudah menjadi sifat Mao yang mudah akrab dengan siapa saja... seharusnya dia bisa memahami itu dan mempercayai Mao...
lagipula pria itu adalah okada yang umurnya jauh dibawahnya.. seharusnya ia tidak perlu cemburu seperti itu..
Mao memang menarik.. ia cantik dan punya personality yang menyenangkan rasanya wajar bila seorang pria seperti okada tertarik padanya...
"kenapa sekarang aku seperti kehilangan kepercayaan diri.. cinta mao sudah pasti untukku.. ngga perlu aku khawatirkan hal2 seperti ini "gumamnya dalam hati..
Jun menarik napas panjang dan menghembuskannya... sekarang ia bingung harus bagaimana... pulang ke apartement rasanya malas sekali.. ia tidak ingin sendirian..
Jun memejamkan matanya namun sebentar kemudian ia bangun... ia segera membenarkan kembali posisi duduknya dan segera menghidupkan mesin mobilnya... dia memutuskan untuk menjemput Mao dan meminta maaf padanya... ia tidak ingin sendirian malam ini.. ia butuh mao...
lagipula sekarang atau besok sama saja tetap dia yang harus meminta maaf.. karnanya ia tidak ingin menunggu sampai besok.. begitu pikirnya..
Mao berjalan pelan menyusuri trotoar jalan yang menuju ke arah rumahnya...
tadi sebelumnya ia mampir ke toko swalayan dan sekarang sengaja memilih berjalan kaki dari toko swalayan ke rumahnya yang jaraknya lumayan jauh.. ia ingin mendinginkan suasana hatinya.. dan melupakan pertengkarannya dengan Jun...
setibanya di rumah Mao sedkit heran melihat pintu pagar yang terbuka... dia segera menoleh ke kanan dan kiri memeriksa mobil yang terpakir disekitar rumahnya mungkin saja ada tamu yang ia kenal..
dan diseberang ia melihat mobil yang sangat dikenalnya... mobil Jun... ngapain dia kemari? pikirnya..
Mao membalikan badannya namun Jun sudah ada didepan pintu pagar menyambutnya...
"Mao..." panggilnya..
Mao menoleh kearah Jun..
Jun melangkah mendekati mao dan berhenti dua langkah dari tempat Mao berdiri...
"maafkan aku.." katanya dengan suara pelan..
mao membalikan badannya kembali menghadap Jun.. ia memandang Jun dengan serius
"aku tau tadi kata2ku terlalu kasar... aku tau itu menyakitimu... maafkan aku.. aku hanya..." Jun berhenti sejenak menelan ludahnya seolah ingin membasahi tenggorokannya yang terasa kering...
"kamu cemburu kan...?" potong mao...
Jun menatap Mao tak berkedip... bagaimana bisa ia mengelak dari perasaan cemburu... wanita yang sedang ia tatap ini begitu mempesona dan telah membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya... dan bukan tidak mungkin pria lainpun akan jatuh cinta padanya...
"mmm..." Jun mengangguk pelan...
"aku memang cemburu... karna kamu terlalu menarik... pria lain mungkin akan dengan mudah jatuh cinta padamu.. tak terkecuali okada.." jawabnya
"biarkan aku bicara dulu..." Jun memberikan isyarat dengan tangannya saat Mao akan melangkah mendekatinya dan mengucapkan sesuatu...
"mengenai okada mungkin aku berlebihan.. tapi aku bicara berdasarkan apa yang aku lihat... dan aku memang cemburu...aku minta maaf..."
jun diam sebentar lalu...
"tapi aku percaya kamu... jika apa yang aku pikirkan tentang okada itu benar.. aku yakin kamu pasti bisa mengatasinya..."
Jun maju selangkah.. dan meraih tangan Mao..
"aku ngga pernah sedikit pun meragukan hati kamu.. tapi aku hanya ingin kamu sedikit waspada... ngga ada salahnya kan...? jangan sampe okada salah mengartikan sikap kamu..." pintanya
Mao tersenyum dan menganggukan kepala...
"he ehmmm... aku janji akan jaga sikapku supaya dia tidak salah mengartikan.." jawabnya lalu melingkarkan tangannya dileher Jun...
"bodo... sama anak kecil aja kamu cemburu..." bisiknya ditelinga Jun lalu mendekap erat Jun...
Jun tersenyum dan membalas dekapan Mao...
"jangankan anak kecil.. balita pun bisa bikin aku cemburu..." jawabnya...
"aku hanya ngga ingin kehilangan kamu..."
Mao melonggarkan dekapannya.. tangannya masih melingkar di leher Jun..
"heii.. kemana matsujunku yang full confidence..? orang yang cemburuan itu berarti hati nya lemah..."
"kalo menghadapi cinta siapapun bisa lemah... termasuk aku.." jawab jun
Mao menatap dalam2 mata Jun lalu perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Jun dan menciumnya dengan lembut...
"mungkin ini bisa mengembalikan kepercayaan dirimu..." katanya
Jun menarik tubuh Mao.. mendekapnya lebih erat lagi dan memberikan ciuman balasan yang lebih dalam..
Mao memejamkan matanya menikmati kehangatan yang terasa mengalir di dalam tubuhnya.. membiarkan dirinya hanyut dalam cinta yang Jun beri... dan Mao pun berusaha memberikan yang terbaik yang dapat ia lakukan untuk Jun...
ini seperti energy baru yang mengembalikan kekuatan pada cinta mereka dan melupakan pertengkaran... hanya ini yang mereka butuhkan sekarang ini...
Jun melepaskan ciumannya dengan lembut lalu berbisik...
"kita pulang ya..."
mao mengangguk pelan...
"aku harus bilang apa ke mamah...? " tanyanya pada Jun...
"bodo.. makanya lain kali berfikir dulu.. jangan setiap kali berantem selalu pulang kesini..." Jun mendorong kening Mao dengan telunjuknya
"hei.. karna hanya disini tempat yang paling aman untuk menghindar dari kedo's-an kamu..." jawab Mao sambil mengusap-usap keningnya dengan wajah yang mencibir...
"tempat yang aman..? kamu pikir aku harimau sampe harus nyari tempat aman...?"
Mao mendorong tubuh Jun dan berkata...
"kamu lebih seram dari harimau dan singa kalo lagi marah..." lalu berlari masuk kedalam rumah sambil tertawa...
"heiii... enak aja..." teriak Jun dan berlari mengejar Mao..
Kamis, 30 April 2009
Selamat datang jagoan kecil....

"aku ngga bisa makan yang ini..." Mao mendorong pelan piring yang berisi macaroni schotel dihadapannya lalu beranjak berdiri meninggalkan meja makan...
Mio yang berada disebelahnya menatap mamanya dengan pandangan heran...
"macaroni papa enak kok..." katanya polos...
Jun yang sedang menuangkan sisa macaroni ke piring berhenti sejenak dan menoleh ke Mao..
"ada apa?" tanyanya...
"kamu kan belum menyentuh sama sekali makanan itu..."
"bau bawangnya membuatku eneg dan juga kurang kering.." jawab mao
"biasanya juga seperti itu yang kubuat... kamu ngga pernah komplain sebelumnya.."
Mao tidak menjawab, ia sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya ke tempat pemotretan..
Jun menaruh piring yang sedang dipegangnya lalu menghampiri mao dan memeluk pinggangnya dari belakang...
"ada apa...?" tanyanya...
"mood kamu akhir2 ini sangat tidak stabil... aku jadi khawatir..." katanya sambil membalikan tubuh Mao tangannya masih dipinggang Mao..
"kamu kecapean ya... mintalah waktu untuk istirahat..." sarannya
"emmmmm... aku emang sering merasa cape akhir2 ini... tapi.."
Mao menggelengkan kepalanya..
"ngga mungkin aku ambil waktu untuk libur karna kita dikejar date line..."
Jun memandang istrinya dengan teliti... ia melihat wajah Mao yang sedikit pucat... ada perasaan khawatir dihatinya tapi ia juga mengerti profesionalitas Mao dalam pekerjaannya...
"tapi wajahmu keliatan cape sayang... gimana kalo aku panggil supir untuk mengantarmu dan Mio hari ini..."
Mao menggelengkan kepalanya..
"ngga... ngga usah... aku masih bisa kok nganter Mio kesekolahnya dan pergi ke locasi pemotretan sendiri..."
"kamu yakin..?" tanya Jun
Mao mengangguk dengan cepat...
"baiklah untuk pengambilan gambar yang tersisa aku izinkan.. tapi setelah itu berjanjilah untuk sementara waktu kamu istirahat dulu.." kata Jun tegas...
Mao mengangguk menuruti kata2 Jun...
"akan ku bakar lagi makroninya supaya lebih kering ya dan menambahkan sedikit merica agar bau bawangnya tidak terlalu menyengat..." Jun melepaskan tangannya dari pinggang Mao dan berbalik menuju dapur
Mao mengikuti Jun dari belakang...
"maafkan aku karna aku jadi rewel..." katanya
"bukannya sudah rewel dan bawel dari dulunya...?" canda Jun yang dibalas wajah cemberut Mao...
Jun tertawa sambil memasukan kembali macaroni yang sudah ditambahinya merica ke dalam microwave
"ngga masalah... asalkan kamu senang tuan putri.." lanjutnya
"masakan papa enak kok ma.. mio aja suka banget... " Mio yang telah selesai dengan sarapannya beranjak dari kursi dan menarik tangan mamanya untuk duduk bergabung dengannya di meja makan...
"masakan papa yang paling enak sedunia... beneran deh ma... "katanya lagi mencoba membujuk sang mama
Jun menoleh sebentar dan tersenyum melihat sikap sok dewasa Mio...
walaupun umurnya belum genap 4 tahun tapi mio terkadang bersikap lebih dewasa dari umurnya sikapnya itu sering kali membuat Jun dan Mao tertawa geli... tapi Jun menyadari sifat Mio itu lebih banyak menurun dari dirinya...
Jun turun dari mobilnya ia baru saja sampai disebuah sekolah dasar, hari itu ia dan Nino ada shooting untuk variety show Arashi dan kali ini ia dan Nino harus mengajar anak2 sekolah dasar didepan kelas...
Jun melihat arloji ditangannya
"hmmm masih ada waktu 10 menit..." gumannya...
ia berjalan melewati lapangan rumput menuju tempat yang dijelaskan Nino di sms nya...
saat melewati lapangan langkah Jun terhenti oleh sebuah bola yang melaju mengenai kakinya ia melihat sekelompok anak laki2 berlarian kearahnya lalu salah satu anak dengan sopan meminta bola yang sudah berada di tangan Jun... Jun tersenyum dan meberikan bola sambil menepuk lembut kepala anak itu...
"terima kasih Oom..." kata si anak kemudian berlari kembali ke tengah teman2nya...
Jun memperhatikan anak2 itu bermain... ia ingat dulu saat ia kecil sepak bola adalah permainan favorit nya ia sering sekali bermain bola dihalaman belakang rumahnya bersama ayahnya itu adalah masa yang sangat indah buatnya... kadang ia merindukan masa2 bermain seperti dulu...
Jun masih berdiri memperhatikan anak2 tadi sambil sesekali ikut tertawa melihat anak2 itu saling bercanda sambil berebut bola.. lalu tanpa sadar ia mulai membayangkan seandainya ia memiliki anak lelaki pasti akan sangat seru bermain bersamanya.. ia bisa mengajarkannya bermain bola atau baseball.. mengajaknya ke setiap pertandingan bola dan baseball atau berdiskusi mengenai olahraga suatu hal yang disenanginya.. ia tersenyum membayangkannya..
tapi tidak berapa lama teriakan Nino membuyarkan lamunannya.. ia menoleh kebelakang... dari kejauhan Nino melambaikan tangannya
"Jun... kita udah mau mulai shooting..."teriaknya
"oh.. ok..." Jun segera berlari kecil menghampiri Nino...
"anak2 sudah siap di dalam kelas..." lanjut Nino sambil menyerahkan skrip pada Jun...
Jun membaca sekilas skrip yang disodorkan sambil berjalan menuju kelas.. namun tiba2 Hp nya berbunyi... ada sms yang masuk dari Ito asisten manager Mao... jun segera membukanya... dan tiba2 saja wajahnya berubah serius saat membaca isi pesan singkat di HP nya
"Mao terjatuh di locasi shooting dan saat ini berada di rumah sakit " begitu kalimat yang tertera di screen
"Nino, aku minta waktu sebentar untuk menelpon..." pinta Jun sambil segera berlalu meninggalkan Nino dan crew...
tidak lama Jun kembali ke kelas dengan wajah yang sedikit tegang...
"ada apa Jun..?" tanya Nino... ia nampak khawatir melihat perubahan wajah Jun...
"Mao ada di rumah sakit dia pingsan tapi aku masih belum tau keadaannya karna masih dalam pemeriksaan.." jawab Jun
"di RS...? kamu ngga sebaiknya menyusul kesana..." saran Nino...
"ya setelah shooting kita selesai..." kata Jun
"shooting bisa kita tunda Jun.. lagipula kita masih punya banyak waktu..."
"ngga... ngga usah... kita shooting sekarang... kalo ada yang serius Ito pasti menghubungiku..." katanya lagi
"Hitori... aku titip ini.. " Jun menyerahkan Hp nya ke salah satu crew
"tolong angkat jika itu dari Ito dan tolong tanyakan kondisi Mao.." katanya lalu ia segera bersiap untuk shooting...
Mio baru saja tertidur pulas setelah papanya membacakan dongeng kesukaannya tentang seorang putri yang tersesat didalam hutan dan bertemu dengan kelinci yang lucu yang membantunya menemukan jalan pulang...
"itukan salahnya putri... seharusnya dia bilang sama mama dan papanya kalo mau pergi-pergi.. iya kan pa..."
Jun tersenyum mengingat komentar yang keluar dari bibir mungilnya itu...
ia memandang wajah polos putri kesayangannya itu lalu mengecup keningnya...
"kamu pasti bisa menjadi kakak yang baik sayang..." bisiknya...
kemudian Jun beranjak perlahan dari sisi tempat tidur mio, mematikan lampu kamar dan melangkah menuju kamarnya...
ia berhenti di pintu kamar memperhatikan Mao yang sedang asiek membaca novel... Mao terlihat serius membaca...
Jun menghela napas panjang rasanya hari ini jantungnya dipaksa berpacu kencang... saat ia menerima sms dari ito yang mengabarkan kondisi Mao, ia benar2 panik... walaupun ia berusaha tetap tenang saat shooting dan berusaha untuk profesional... namun saat shooting selesai ia sudah tidak menghiraukan hal lain selain segera meluncur ke RS untuk melihat keadaan istri tercintanya... bahkan untuk pamit pada nino dan crew pun tidak...
ia berlari sepanjang koridor RS dengan perasaan yang cemas...
namun untunglah ia dapat bernapas lega setelah ia menemui dokter yang mengatakan Mao hanya mengalami anemia dan butuh beristirahat... dan bukan hanya lega tapi ia malah mendapat kejutan istimewa saat dokter menjabat tangannya dan mengucapkan
"Selamat... anda kembali menjadi seorang Ayah..."
ini benar2 berita yang membuatnya bahagia sekali...
Mao menutup novelnya dan menyimpannya dimeja samping tempat tidurnya... ia melihat Jun yang masih berdiri memperhatikannya di pintu...
"sedang apa sayang kok cuman berdiri disitu..." katanya dengan seyuman lalu mengulurkan kedua tangannya meminta jun untuk memeluknya
Jun melangkah mendekatinya dan memeluknya...
"sedang mengagumi ibu dari anak2ku..." Jun berbisik ditelinga Mao...
mereka berpelukan lama... lalu mao melepaskan pelukannya dan menatap Jun...
"maaf ya Jun.. kita belum membicarakan keinginan untuk memiliki anak kedua tapi sekarang aku malah udah hamil..." katanya...
Jun tersenyum kedua tangannya memegang pipi Mao...
"kita memang belum membicarakannya.. tapi bukan berarti aku ngga mengharapkannya..." lalu mengecup kening Mao
"aku sangat menginginkannya... dan kedatangannya sangat tepat... aku bahagia sekali..." lanjutnya
ia membungkuk pelan dan menempelkan kepalanya diperut mao...
"hi.. jagoan..."sapanya pada jabang bayi
"kok jagoan sih... sok tau banget kalo dia cowo..." Mao tertawa mendengar sapaan Jun...
Jun menoleh sebentar ke Mao
"feeling seorang ayah..." katanya tersenyum lalu memberikan kecupan berulang ulang diperut Mao yang membuat mao tertawa kegelian...
Rabu, 22 April 2009
Langgan:
Entri (Atom)